Rere di Garis Mutu Pemulihan Aceh Tamiang

Huntara tersebut dibangun untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.

Setelah proyek pertama rampung, pengawasan dilanjutkan pada pembangunan Huntara tahap kedua di depan SMP Negeri 1 Karang Baru.

Pekerjaan itu menuntut ketelitian tinggi. Hunian sementara harus dibangun cepat agar warga segera memiliki tempat tinggal layak, tetapi kualitas konstruksi tetap harus dijaga.

BACA JUGA...  Penggerakan SMSI Untuk Pers Indonesia 

Rere nyaris tidak pernah absen dari lokasi proyek. Ia berjalan dari satu titik ke titik lain sambil mencatat kekurangan yang harus segera diperbaiki.

Bagi para pekerja lapangan, kehadiran Rere sering kali menjadi alarm disiplin.

Ia dikenal tegas.

Tak ada toleransi untuk pekerjaan yang tidak sesuai standar.

Namun ketegasan itu tidak membuatnya berjarak.

BACA JUGA...  Formula E Gagal Dijegal

Di luar urusan pekerjaan, Rere justru dikenal hangat oleh para staf dan pekerja lapangan.

Ia kerap berdiskusi santai dengan pekerja lokal sambil mendengarkan persoalan mereka.

Fokus pada 744 Fasilitas Umum

KETIKA pembangunan huntara memasuki tahap akhir, tugas besar lain menanti.

WiKA mendapat mandat melakukan pembersihan terhadap 744 paket fasilitas umum di Aceh Tamiang.

BACA JUGA...  Jalan yang Berbelok dari Nurani

Jumlah itu bukan angka kecil.

Fasilitas yang harus dibersihkan tersebar di berbagai wilayah, mulai dari sekolah, pesantren, kantor pemerintahan, sarana olahraga, hingga sanggar seni.