Rere di Garis Mutu Pemulihan Aceh Tamiang

Selama 26 tahun bekerja di perusahaan konstruksi milik negara tersebut, Rere terbiasa menghadapi tekanan proyek, tenggat waktu, hingga medan pekerjaan yang tidak selalu ramah.

Namun, proyek di Aceh Tamiang memiliki tantangan berbeda.

Ia hadir di wilayah yang baru saja dihantam bencana ekologis dan hidrometeorologi.

Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang sebelumnya meninggalkan kerusakan serius. Rumah warga rusak, fasilitas umum lumpuh, dan aktivitas masyarakat nyaris berhenti.

BACA JUGA...  TMK YANG DIPERSOALKAN; KETIKA RUMAH TERTIMBUN LUMPUR, NEGARA MASIH MENGHITUNG SENTIMETER

Di tengah kondisi itu, WiKA hadir membawa mandat percepatan pemulihan.

Dan Rere menjadi salah satu orang yang memastikan pekerjaan itu tidak asal selesai.

Menjaga Standar di Tengah Situasi Darurat

DALAM proyek tanggap darurat, kecepatan sering menjadi prioritas utama. Namun bagi Rere, kecepatan tanpa kualitas justru akan melahirkan persoalan baru di kemudian hari.

BACA JUGA...  Jejak Korupsi, Datok Penghulu Lama di Kuala Peunaga

Setiap pagi, ia memulai pekerjaan dengan mengecek progres lapangan. Dari kualitas material, ketepatan pengerjaan, hingga efektivitas tenaga kerja, semuanya masuk dalam pengawasannya.

“Kalau kualitas diabaikan hanya karena ingin cepat selesai, maka masyarakat yang akan dirugikan,” kata Rere kepada wartawan di sela aktivitasnya.

Tahap awal proyek yang diawasi Rere adalah pembangunan Hunian Sementara (Huntara) tahap pertama di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang.