Kampung ini lebih sunyi. Tak ada suara ayam. Tak ada suara kendaraan. Hanya ada suara daun-daun kering yang bergesekan dengan lumpur.
Ketika boat menepi, warga bergerak cepat. Logistik diterima langsung oleh Kepala Desa terpilih yang dari wajahnya tampak jelas sedang memikul beban kampung yang porak-poranda.
Di kampung ini, lebih dari separuh penduduk kehilangan rumah. Air susu tidak ada. Air bersih nyaris tidak ditemukan. Bantuan itu seperti oksigen untuk paru-paru yang nyaris berhenti bekerja.
Pulang di Tengah Malam.
PERJALANAN pulang menuju Kualasimpang bukan perjalanan biasa. Matahari telah turun.
Sungai menjadi gelap—hanya diterangi lampu senter yang redup karena basah.
Beberapa kali boat tersangkut di batang kayu. Beberapa kali hampir terbalik.
Tetapi pada pukul 22.15 WIB, boat-boat itu akhirnya tiba di pelabuhan kecil Kualasimpang.
Taryadi turun dari boat dengan kaki gemetar. Bukan karena takut—tetapi karena ia sadar begitu banyak nyawa di bukit-bukit gelap itu yang belum tersentuh bantuan.
Gelombang Kedua Bantuan dari Jakarta.
SEBELUM perjalanan ini, Taryadi telah menerima bantuan lain dari temannya di Jakarta—6 ton berisi; Air mineral, Roti, Pakaian baru, Beras, Obat-obatan, Vitamin dan Pempek.





