Bencana Demi Bencana, Rakyat Wajib Melawan Oligarki Sawit

Eks kombatan asal Aceh Timur, Anwar Rabo.

ACEH TIMUR | MA – Banjir dan longsor yang terus berulang di Aceh serta sejumlah wilayah di Sumatera kian menegaskan bahwa kerusakan lingkungan telah mencapai titik mengkhawatirkan.

Bencana tersebut bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan buah dari perusakan hutan yang berlangsung sistematis dan dibiarkan bertahun-tahun.

Mengutip temuan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), wilayah-wilayah terdampak banjir dan longsor memiliki keterkaitan kuat dengan ekspansi industri sawit skala besar. Pembukaan hutan, alih fungsi kawasan lindung, serta pengeringan rawa terjadi masif di hulu daerah aliran sungai. Di belakang praktik itu, berdiri oligarki sawit yang menguasai rantai produksi dan distribusi.

BACA JUGA...  Negara Kehilangan Etika dalam Penanggulangan Banjir Aceh

Sejumlah korporasi raksasa disebut dalam laporan tersebut, antara lain Sinarmas Group melalui Golden Agri Resources (GAR) dan PT SMART, Musim Mas Group, serta Wilmar Group. Aktivitas dan rantai pasok perusahaan-perusahaan itu dinilai beririsan dengan kawasan rawan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Eks kombatan asal Aceh Timur, Anwar Rabo, menilai rangkaian bencana ini sebagai peringatan keras bagi semua pihak. Menurut dia, hutan yang seharusnya menjadi benteng alami justru dikorbankan demi kepentingan segelintir elite. “Ketika hutan dihancurkan, yang menanggung akibatnya adalah rakyat kecil. Banjir dan longsor tidak memilih korban,” kata Anwar dalam rilis pers, Senin, 19 Januari 2026.