MENJEMPUT LAPAR DI NEGERI YANG TENGGELAM

Bantuan ke Sekumur dengan Motor Boat.

Semua dikirim dengan satu pesan sederhana; “Bantu siapa pun yang kamu lihat sedang kesusahan.”

Namun kampung-kampung terisolir itu tidak Cuma dua. Masih ada; Suka Makmur, Juar, Baleng Karang dan Sulum.

Semua menunggu. Semua membutuhkan. Tetapi hambatan paling besar adalah biaya boat; Rp 1,5 juta sekali jalan. Angka yang bagi sebagian warga sama mustahilnya dengan membayar pesawat pribadi.

BACA JUGA...  Truk Pengangkut Logistik Terjungkal dan Terbakar di Langkahan, Bupati Aceh Utara Imbau Warga Tetap Tenang

“Ini bukan semata bencana alam. Ini balasan alam atas kebijakan yang salah pada hutan, tambang, dan perkebunan.”

“Kami mendayung empat jam. Boat oleng dua kali. Tapi saya pikir, lebih baik kami yang tenggelam daripada mereka mati pelan-pelan karena lapar.”

“Ketika negara belum sempat datang, maka rakyat harus datang dulu.”

[TARYADI, SH, MH].

Sungai yang Menjadi Saksi.

BACA JUGA...  Ini kata Meurah Budiman Terkait Koperasi Kopri ASN Syariah yang tak Aktif

PERJALANAN Taryadi bukan sekadar aksi kemanusiaan. Ia adalah tamparan keras pada negara—bahwa sistem mitigasi kita rapuh, bahwa ekologi kita retak, bahwa hulu kita telah terlalu lama dibiarkan menjadi arena eksploitasi.

Air bah Aceh Tamiang adalah pengingat bahwa bencana bukanlah kejadian berdiri sendiri.

Ia adalah akumulasi kesalahan yang dipupuk bertahun-tahun.

Di tengah retakan itu, keberanian Taryadi menjadi penanda bahwa kemanusiaan masih mungkin hidup.