Dan Taryadi mendengarnya bukan sebagai cerita, tetapi sebagai panggilan jiwa.
Jejak Kayu Log; Investigasi Hutan yang Hilang.
SEBELUM bergerak membawa bantuan, Taryadi memastikan satu hal; apa sebenarnya yang mengirim air bah sebesar itu?
Laporan cepat yang ia baca, potret drone dari relawan, dan cerita warga di hulu memperlihatkan pola yang sama;
Tumpukan balok kayu sepanjang tiga meter, bercampur lumpur dan pepohonan kecil, memenuhi aliran sungai.
Jejak illegal logging yang sudah bertahun-tahun dirasakan warga kini menjadi nyata dalam bentuk “banjir kayu”.
Bukit gundul akibat alihfungsi perkebunan sawit menciptakan jalur air yang tak lagi mampu diprediksi.
Bekas galian tambang kecil di perbukitan menambah longsoran tanah yang tak mampu menahan curah hujan ekstrem.
“Ini bukan banjir bandang biasa. Ini bencana ekologis. Buatan manusia.” Ujar Taryadi, yang pernah bertahun-tahun bertugas di daerah rawan konflik dan bencana.
Di Aceh Tamiang, ekologi runtuh pelan-pelan seperti serakan domino. Air bah hanya menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh kerakusan manusia.
Telepon Dini Hari dan Gerak Cepat Komunitas.
TARYADI bukan pejabat. Ia bukan kepala dinas. Ia tidak memiliki akses khusus ke gudang logistik pemerintah.





