“Kalau salah sedikit, kami habis.” Kata seorang relawan yang menyertai Taryadi.
Setelah menilai risiko, Taryadi mengambil keputusan cepat; Sewa satu boat lagi. Dua boat menjadi tiga. Logistik dibagi ulang. Mereka mengulang jalur yang sama, dengan tarikan napas yang lebih panjang.
Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dua jam, berubah menjadi empat jam.
Sekumur Menyambut dengan Tangis.
PUKUL 16.30 WIB, boat menepi di Sekumur. Suara anak-anak terdengar lebih dulu daripada suara debur sungai.
Puluhan warga berlari—beberapa masih tanpa alas kaki, beberapa memeluk anak kecil yang tampak memucat karena kurang makan.
Ketika karung beras pertama diturunkan, seorang perempuan paruh baya jatuh berlutut sambil menangis, memeluk karung itu seolah memeluk kehidupan.
Kepala Desa, wajahnya pucat dan mata bengkak karena kurang tidur, menyalami satu per satu tim yang datang. “Kami kira tidak akan ada yang datang.” Itu kalimat yang paling sering terdengar hari itu.
Warga mengangkat logistik itu seperti menjemput keluarga yang kembali dari perang. Tak ada senyum lebar—yang ada hanya syukur yang pelan dan air mata yang ditahan.
Pematang Durian; Kampung yang Masih Hidup Karena Harapan.
USAI membagikan logistik di Sekumur, tim bergerak menuju Pematang Durian.





