Namun tak satu pun dari laporan resmi pemerintah yang menyebutkan bagaimana bau busuk sampah dan kayu log memenuhi udara.
Atau bahwa lumpur tebal menutupi bangkai ternak yang mulai membusuk di halaman rumah yang sudah tak bisa dikenali lagi.
Di tengah kehancuran itu, muncul satu nama yang diperbincangkan dari mulut ke mulut di kampung-kampung terisolir: Taryadi, SH, MH.
Ketukan Pintu Yang Mengubah Segalanya.
TANGGAL 5 Desember 2025, ketika sebagian besar warga berupaya mengeringkan pakaian yang tak pernah benar-benar kering, tiga lelaki dari Sekumur dan Pematang Durian berjalan kaki sejauh belasan kilometer menembus lumpur dan jalur yang sudah tak lagi layak disebut jalan.
Tujuan mereka; rumah Taryadi di BTN Paya Bedi, Kecamatan Rantau.
Pakaian mereka lusuh, tubuh berdebu, dan wajah mereka memancarkan sesuatu yang lebih dalam dari lelah—harapan terakhir.
Suara mereka pecah ketika bercerita. “280 rumah hilang. Kampung tinggal masjid. Kami bertahan di bukit, 1.243 jiwa. Anak-anak sudah tiga hari tidak makan nasi.”
Dua puluh tiga tahun setelah tsunami Aceh, trauma lama seolah kembali merekah. Tetapi kali ini berbeda; Bencana ini bukan kiriman alam sepenuhnya—melainkan hasil dari perbuatan manusia.





