Tapi ia punya jaringan kemanusiaan. Satu panggilan malam itu ia arahkan kepada Haji Sugianto, SE, MM, Ketua PERMATA di Jakarta.
Ia bercerita tanpa melebihkan, tanpa retorika. Bahwa ada seribu lebih warga yang kelaparan. Bahwa kampung hilang. Bahwa pemerintah belum bisa menjangkau lokasi itu.
Tanpa jeda, dari seberang telepon terdengar suara tegas; “Saya kirim logistik malam ini juga.”
Dari Medan Martubun, bergerak; 2 ton beras; 200 kotak mi instan. Semuanya dikirim pada malam itu juga, tiba di Aceh Tamiang pukul 04.00 WIB.
Di sinilah titik awal perjalanan paling berisiko dalam hidup Taryadi dimulai.
Sungai Tamiang; Jalur Satu-Satunya.
KETIKA tim mencoba mencari akses ke Sekumur, mereka menemukan fakta yang membuat banyak orang mengalah; Seluruh jalur darat hilang.
Asap dari kayu basah masih mengepul. Lumpur menutup jalan hingga setinggi pinggang. Sungai dipenuhi batang kayu yang terhanyut deras.
Satu-satunya jalan; Sungai Tamiang. Maka, dua boat disewa.
Masing-masing dengan kapasitas 1 ton, tapi dipaksa menanggung beban lebih.
Pada pukul 9.00 WIB, perjalanan dimulai. Arus sungai bergejolak seperti memuntahkan kembali trauma lama.
Boat pertama oleng ketika menghantam batang kayu. Boat kedua hampir karam ketika belok di tikungan sungai yang dangkal.





