OPINI  

Ketika Hujan Turun Masyarakat Trauma : Pemerintah Harus Peka

Sayed Fauzi,S.Sos (Sayed Panton). Foto : ist.

Oleh: Sayed Panton

Bencana banjir bandang, banjir longsor, dan longsor yang kerap melanda sejumlah wilayah di Aceh telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Setiap kali hujan turun, baik deras, sedang, bahkan ringan, selalu muncul pertanyaan di benak warga: “Apakah akan banjir atau tidak?” Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya mencerminkan trauma kolektif yang belum sepenuhnya pulih. Ketakutan itu bukan tanpa alasan, sebab pengalaman pahit telah berulang kali mereka rasakan.

BACA JUGA...  Pemkab dan Kemenag Aceh Utara Bersihkan Fasilitas Umum Pascabanjir Bandang di Langkahan

Peristiwa bencana yang terjadi pada 26 November 2025 lalu di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera menjadi salah satu catatan kelam yang sulit dilupakan. Banjir bandang datang begitu cepat, menghanyutkan rumah warga, merusak infrastruktur, merenggut nyawa, serta memusnahkan harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun. Dampak fisik memang terlihat jelas, namun dampak psikologis sering kali luput dari perhatian, padahal trauma yang dialami masyarakat bisa berlangsung jauh lebih lama daripada kerusakan bangunan.

BACA JUGA...  Harapan Wali Nanggroe Makbul 

Dalam konteks ini, muncul berbagai pertanyaan: siapa yang harus disalahkan? Apakah pemerintah sebagai pemangku kebijakan, segelintir manusia yang merusak alam, atau justru masyarakat itu sendiri? Pertanyaan tersebut sejatinya tidak untuk saling menyudutkan, melainkan menjadi bahan introspeksi bersama. Sebagai umat beriman, kita meyakini bahwa segala musibah adalah cobaan dari Allah SWT. Namun demikian, ikhtiar manusia untuk mencegah, mengurangi risiko, dan memulihkan dampak bencana tetap menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan.