Ekonomi yang perlahan digerakkan kembali memberi sinyal bahwa luka ekologis masih bisa disembuhkan, meski bekasnya akan lama. Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih.
Namun di antara lumpur, kayu, dan rumah-rumah sementara, satu hal mulai tumbuh: keyakinan bahwa bencana tidak selalu berakhir dengan ketakutan; jika kepemimpinan berani memilih jalan yang benar. [].




