Di DAS Tamiang, hutan seharusnya bekerja seperti spons raksasa; menyerap hujan, menyimpannya, lalu melepasnya perlahan. Namun fungsi itu melemah akibat pembukaan lahan, fragmentasi kawasan, dan tekanan pemanfaatan yang tak selalu sejalan dengan prinsip kelestarian.
Akibatnya sederhana namun mematikan; hujan langsung berubah menjadi aliran deras.
Kayu-kayu besar yang kini berserakan di kebun warga adalah bukti fisik kerusakan hulu. Dalam ekosistem sehat, material sebesar itu tidak mudah tercerabut dan hanyut.
Kebijakan pemanfaatan kayu hanyutan, dengan syarat ketat, secara tak langsung mengakui bahwa banjir bukan hanya urusan cuaca [melainkan soal tata kelola hutan].
Namun rehabilitasi hilir tanpa pembenahan hulu ibarat menguras air dari perahu bocor tanpa menambal lubangnya.
“Banjir bandang bukan semata peristiwa alam. Ia adalah alarm keras bahwa hubungan kita dengan hutan sedang bermasalah.”
KERJA SUNYI
PEMULIHAN adalah kerja sunyi yang jarang selesai dalam satu masa jabatan.
Di Aceh Tamiang, Armia Pahmi sedang menulis satu bab penting; bagaimana daerah terdampak bencana tidak sekadar diselamatkan, tetapi dipulihkan dengan martabat.
Kayu hanyutan yang dulu dianggap masalah kini menjadi bahan bangunan harapan—dengan hukum sebagai pagar. Huntara yang berdiri di atas tanah berlumpur menjadi tanda bahwa negara bisa hadir tepat waktu.




