Relawan Pendidikan Bergerak, Aceh Tamiang Perkuat Penanganan Anak Tidak Sekolah Pascabencana

“Kuncinya koordinasi dan kolaborasi. Sebenarnya tidak sulit, intinya ada kepedulian.”

[Sepriyanto, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang].

  • Kolaborasi lintas sektor dibangun untuk memastikan tidak ada anak kehilangan hak belajar akibat kemiskinan, persoalan sosial, maupun dampak bencana.

DI BALIK riuh aktivitas pemulihan pascabencana banjir, masih ada kegelisahan yang dirasakan banyak keluarga di Kabupaten Aceh Tamiang.

Sejumlah anak perlahan menjauh dari ruang kelas, kehilangan semangat belajar karena tekanan ekonomi, situasi keluarga, hingga dampak sosial setelah bencana.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kabupaten Aceh Tamiang mulai memperkuat gerakan bersama penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui Program Relawan Pendidikan Tahun 2026.

Program ini tidak sekadar berfokus pada pendataan, tetapi menjadi upaya bersama untuk kembali mengetuk pintu rumah warga, mendengar cerita anak-anak yang sempat kehilangan arah pendidikan, serta memastikan mereka tetap memiliki kesempatan menata masa depan melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal.

Melalui keterlibatan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, relawan pendidikan, hingga pendamping desa, pendekatan yang dibangun dilakukan secara lebih humanis, dekat dengan masyarakat, dan berbasis kepedulian sosial.

BACA JUGA...  SAAT AIR TAK LAGI JINAK