Relawan Pendidikan Bergerak, Aceh Tamiang Perkuat Penanganan Anak Tidak Sekolah Pascabencana

Mereka bergerak di empat kecamatan sasaran, yakni Kecamatan Rantau, Kecamatan Kuala Simpang, Kecamatan Karang Baru, dan Kecamatan Kejuruan Muda.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan ATS bukan hanya menjadi urusan sektor pendidikan, melainkan tanggung jawab sosial bersama.

Salah seorang relawan dari Yayasan SalamAid, Alifia Hidayatun, mengaku tergerak terlibat dalam program tersebut karena kepeduliannya terhadap anak-anak yang terdampak putus sekolah, khususnya pascabencana banjir.

BACA JUGA...  Pekerjaan IPAL di Lima Puskesmas Diduga Mal Pungsi dan Markup

Alifia yang merupakan sarjana kedokteran hewan dan akan melanjutkan pendidikan profesi dokter hewan (koas) itu bertugas melakukan penjangkauan di Kecamatan Kejuruan Muda.

“Ini panggilan dari hati, terutama untuk merangkul adik-adik yang putus sekolah pascabencana banjir agar bisa kembali bersekolah,” ujarnya.

Menurut Alifia, banyak anak sebenarnya masih memiliki keinginan untuk belajar. Namun, keadaan sering kali membuat mereka harus mengubur mimpi lebih cepat, mulai dari persoalan ekonomi keluarga hingga kondisi sosial setelah bencana.

BACA JUGA...  Goodby Check Point Perbatasan Aceh Tamiang - Sumut

Sementara itu, Koordinator Mitra Dompet Duafa, Shirli Gumilang, berharap program tersebut tidak berhenti pada proses pendataan semata, tetapi juga diikuti langkah penanganan langsung terhadap persoalan yang ditemukan di lapangan.

“Ada anak korban perundungan yang sebenarnya masih sangat ingin kembali ke sekolah. Kami berharap ada tindak lanjut nyata dari berbagai pihak,” katanya.

Dukcapil dan Pendamping Desa Dilibatkan