HARI KETIKA HIDUP BERUBAH
MALAM itu, hujan turun tanpa kompromi. Sungai-sungai yang selama bertahun-tahun dipersempit, dinormalisasi setengah hati, dan dibebani sedimentasi dari hulu yang gundul, akhirnya meluap. Air datang bersama kayu, lumpur, dan sisa-sisa hutan yang telah lama kehilangan akar.
Di banyak kampung, warga tak sempat menyelamatkan apa pun. Ada anak yang terpisah dari ibunya, ada ayah yang tak pernah kembali. Di pengungsian, cerita kehilangan berlapis-lapis; kehilangan keluarga, kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan rasa aman.
“Bencana ini memiskinkan kami dalam satu malam,” kata seorang warga Sekumur. Kalimat itu bukan metafora. Ia adalah laporan ekonomi paling jujur tentang apa yang terjadi di Aceh Tamiang.
BENCANA EKOLOGIS, BUKAN TAKDIR TUNGGAL
DI ACEH TAMIANG, bencana kerap disebut sebagai kehendak Tuhan. Tapi di balik itu, ada jejak panjang tangan manusia. Hutan yang dulu menjadi penyangga air telah terkoyak oleh pembalakan dan alih fungsi lahan. Sungai kehilangan ruang limpahnya. Daerah tangkapan air dipaksa menanggung beban yang tak lagi seimbang.
Bumi sejatinya tidak meminta diurus manusia. Ia hanya menuntut satu hal; tidak dirusak. Ketika keseimbangan ekosistem dihancurkan, alam akan mencari jalannya sendiri untuk memulihkan [sering kali dengan cara yang menyakitkan manusia].




