JEJAK BANTUAN DI PEDALAMAN; AKU YANG TAK PERNAH MANGKIR

Saya ada di sini dan tidak menghilang.

“Dari hari pertama bencana sampai hari ini, saya tetap di Tamiang bersama masyarakat. Saya juga penyintas. Saya juga relawan. Yang membedakan saya dengan rakyat saya hanyalah satu: saya pelayan mereka. Jika saya belum mampu memuaskan 306 ribu lebih jiwa rakyat saya, saya minta maaf. Tapi saya tidak lari dari kenyataan dan akan berusaha terus untuk bangkit bersama rakyat.”

[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, Bupati Aceh Tamiang]

AIR BAH memang telah surut. Lumpur mulai mengeras di sudut-sudut rumah yang tinggal rangka. Namun di Aceh Tamiang, duka tak pernah benar-benar pergi. Ia menetap di mata para ibu yang kehilangan dapur, di tangan para petani yang kehilangan sawah, dan di ingatan anak-anak yang tak lagi menemukan orang tuanya di tengah malam yang gelap pada 26 November 2025.

BACA JUGA...  Di Tanah yang Terlupakan, Saiful Bahri Mengangkat Derita Sekerak ke Ruang Kebijakan

Kabupaten di ujung timur Provinsi Aceh itu [yang oleh warganya dijuluki Bumi Muda Sedia] seperti dipukul bertubi-tubi. Banjir ekologis meluluhlantakkan segalanya; rumah, perkebunan, pertanian, infrastruktur, hingga sendi-sendi ekonomi masyarakat. Empat puluh hari hampir berlalu, tetapi kerusakan belum sepenuhnya terpetakan, apalagi dipulihkan.

Bencana ini bukan hanya peristiwa alam. Ia adalah simpul dari kesalahan panjang; eksploitasi, pembiaran, dan kebijakan yang sering kali lebih ramah pada kepentingan modal ketimbang keselamatan ruang hidup.