Di Tanjung Gelumpang dan Sekumur, pola bantuan serupa kembali disalurkan. Setiap paket logistik dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar: pangan, air bersih, penerangan, dan perlindungan dari cuaca. Negara, dalam konteks ini, hadir dalam bentuk paling konkret—barang yang bisa disentuh, dipakai, dan dirasakan manfaatnya.
DUA FIGUR DI GARIS DEPAN
ARMIA tidak berdiri sendiri. Di sisinya ada Iman Suhery, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang. Di lingkaran birokrasi kebencanaan, Iman dikenal sebagai figur teknis yang menjadi “pilot” recovery dan rehabilitasi-rekonstruksi. Setiap keputusan lapangan selalu dikaitkan dengan peta risiko dan tahapan pemulihan.
Kehadiran Kapolres, Kajari, Kabag Tapem, Camat Sekerak, serta anggota Polairud menandai bahwa pemulihan Aceh Tamiang melibatkan lintas sektor. Namun, koordinasi antarinstansi bukan perkara mudah.
Di balik foto-foto penyaluran bantuan, ada tarik-menarik kepentingan, keterbatasan anggaran, dan tekanan waktu.
Di sinilah pemulihan diuji; bukan hanya seberapa cepat bantuan disalurkan, tetapi seberapa kuat negara membangun kembali kepercayaan warganya.
DI ANTARA BANTUAN DAN HARAPAN
BANTUAN memang terus datang. Namun warga paham, sembako tak bisa menggantikan sawah yang rusak, kebun yang hilang, atau hutang yang menumpuk. Pemulihan ekonomi menjadi pekerjaan rumah paling berat. Banyak warga kehilangan sumber penghidupan tanpa kepastian kapan bisa kembali bekerja.




