“Saya tegaskan, tidak benar ada masyarakat Aceh Tamiang yang hari ini kelaparan. Sejak banjir datang, saya ada bersama masyarakat. Saya tidak keluar dari Aceh Tamiang. Pemerintah bersama TNI, Polri, dan pendonor menyalurkan sembako lewat jalur sungai agar warga tetap mendapatkan asupan makanan.”
[Irjen Pol (P) Drs Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang]
- Sungai Tamiang, Jalur Terakhir Ketika Jalan Negara Terputus
AIR BAH datang tanpa kompromi. Di sejumlah kampung di Aceh Tamiang, longsor menutup badan jalan, jembatan runtuh tak bersisa, dan arus sungai meluap hingga mengepung pemukiman.
Di saat yang sama, kekhawatiran paling mendasar pun menyeruak; apakah dapur warga masih bisa mengepul ketika akses hidup benar-benar terputus?
Pertanyaan itu menggema di tengah kepanikan, diperparah oleh kabar berantai di media sosial tentang kampung-kampung yang disebut belum tersentuh bantuan. Namun Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang memberikan satu jawaban tegas; pasokan sembako tidak pernah berhenti.
“Tidak benar ada masyarakat Aceh Tamiang yang hari ini kelaparan,” tegas Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, kepada mediaaceh.co.id, Minggu, 21 Desember 2025, dari Karang Baru.
Pernyataan itu bukan sekadar klarifikasi. Ia menjadi garis batas antara fakta lapangan dan kecemasan publik yang berkembang di tengah situasi darurat.














