“Pemilihan Datok bukan soal siapa yang paling berpengaruh, tapi siapa yang paling siap mengabdi.”
[Abdul Karim. Warga Alur Bemban].
ALUR Bemban begitu nama kampung [Desa] itu, ada di Kecamatan Karang Baru, aroma kontestasi mulai terasa di antara desir angin sawah dan riuh canda warga di warung kopi.
Menjelang berakhirnya masa jabatan Datok Penghulu pada Februari 2026, masyarakat kembali bersiap menyambut pesta demokrasi di tingkat paling dasar; Pemilihan Datok Penghulu (Pildatok).
Dari perbincangan yang kian hangat di meunasah hingga pojok balai desa, empat nama mulai mencuat ke permukaan; Sanijar, Bardansyah Putra, Antomy, dan Zaimah [putra-putri terbaik yang disebut-sebut akan maju sebagai calon Datok Penghulu Kampung Alur Bemban].
Mereka bukan sekadar nama. Masing-masing membawa cerita hidup, niat tulus, serta pandangan berbeda tentang bagaimana membangun kampung kecil ini ke arah yang lebih baik; dari peningkatan sumber daya manusia, memperkuat adat, hingga menata tata kelola pemerintahan yang lebih terbuka dan akuntabel.
Jejak Kepemimpinan yang Panjang.
KAMPUNG Alur Bemban memiliki sejarah kepemimpinan yang panjang. Sejak pertama kali berdiri, sudah delapan tokoh bergantian memegang tampuk kepemimpinan. Dari M. Tahir, M. Yusuf, Z. Syamsir, OK Hasyim, H. Abdullah Halim, H. Mahmud, Abdurrahman Wahid, hingga Misnan.




