“Pemilihan Datok bukan soal siapa yang paling berpengaruh, tapi siapa yang paling siap mengabdi.”
[Abdul Karim. Warga Alur Bemban].
ALUR Bemban begitu nama kampung [Desa] itu, ada di Kecamatan Karang Baru, aroma kontestasi mulai terasa di antara desir angin sawah dan riuh canda warga di warung kopi.
Menjelang berakhirnya masa jabatan Datok Penghulu pada Februari 2026, masyarakat kembali bersiap menyambut pesta demokrasi di tingkat paling dasar; Pemilihan Datok Penghulu (Pildatok).
Dari perbincangan yang kian hangat di meunasah hingga pojok balai desa, empat nama mulai mencuat ke permukaan; Sanijar, Bardansyah Putra, Antomy, dan Zaimah [putra-putri terbaik yang disebut-sebut akan maju sebagai calon Datok Penghulu Kampung Alur Bemban].
Mereka bukan sekadar nama. Masing-masing membawa cerita hidup, niat tulus, serta pandangan berbeda tentang bagaimana membangun kampung kecil ini ke arah yang lebih baik; dari peningkatan sumber daya manusia, memperkuat adat, hingga menata tata kelola pemerintahan yang lebih terbuka dan akuntabel.
Jejak Kepemimpinan yang Panjang.
KAMPUNG Alur Bemban memiliki sejarah kepemimpinan yang panjang. Sejak pertama kali berdiri, sudah delapan tokoh bergantian memegang tampuk kepemimpinan. Dari M. Tahir, M. Yusuf, Z. Syamsir, OK Hasyim, H. Abdullah Halim, H. Mahmud, Abdurrahman Wahid, hingga Misnan.
Masing-masing punya jejaknya sendiri; dari membangun infrastruktur sederhana, membuka jalan penghubung antar dusun, hingga memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat.
Kini, generasi baru dihadapkan pada pertanyaan yang sama, siapa yang pantas melanjutkan estafet ini?
Demokrasi di Ujung Kampung.
PROSES demokrasi di Alur Bemban berjalan sederhana namun bermakna. Ketua Panitia Pemilihan Datok Penghulu (P2DP), Fauzan Annashiri, melalui wakilnya, Muchlas, menjelaskan bahwa pendaftaran calon sudah dibuka sejak 3 November 2025. Hingga kini, baru tiga calon yang mengambil formulir pendaftaran.
“Penerimaan berkas akan berakhir pada 20 November 2025,” ujar Muchlas. Ia memastikan tahapan berjalan transparan. Setelah proses verifikasi, masyarakat akan menggunakan hak pilihnya pada 21 Desember 2025 mendatang [sebuah momentum yang dinanti banyak warga].
Bagi masyarakat Alur Bemban, pemilihan Datok bukan sekadar memilih pemimpin. Ia adalah simbol dari kedaulatan rakyat di tingkat kampung.
Di sinilah demokrasi bekerja paling nyata: tanpa baliho besar, tanpa panggung mewah, hanya suara warga dan secarik kertas di bilik suara.
Suara dari Tokoh Lama.
SOSOK Abdurrahman Wahid, mantan Datok Penghulu yang kini menjadi Kepala Mukim Simpang Empat, ikut memberikan pandangannya. Ia menekankan pentingnya menjaga suasana damai dan sejuk selama proses pemilihan berlangsung.
“Siapapun nantinya yang terpilih, hendaklah menyempurnakan pembangunan di kampung ini. Jangan saling menjatuhkan, berjuanglah dengan tertib dan damai,” ujarnya dengan nada tenang.
Ia juga mengingatkan agar para pendukung dan tim sukses menjaga silaturahmi.
“Kita semua bersaudara. Jangan karena beda pilihan, kita berseberangan. Siapapun yang terpilih, itulah pemimpin kita bersama,” sambungnya.
Kata-kata itu bergema di tengah masyarakat yang kini mulai menimbang masa depan kampung kecil mereka.
Desember nanti, di balai kecil yang menjadi tempat pemungutan suara, masyarakat Alur Bemban akan kembali menorehkan sejarah baru.
Empat nama [dengan segala idealisme dan mimpi] akan bersaing bukan untuk kuasa, tapi untuk mengembalikan ruh gotong royong dan persaudaraan yang menjadi denyut kehidupan kampung.
Dari sinilah demokrasi lokal di Aceh Tamiang kembali menemukan maknanya; sederhana, bersahaja, tapi penuh makna; sebab di ujung kampung seperti Alur Bemban, rakyat masih percaya bahwa kepemimpinan terbaik lahir dari niat tulus untuk melayani. [].






