OPINI  

Jangan Pandang Mazhab,  Solidaritas Islam Harus Diperkuat 

Oleh: Gusmawi Mustafa

Republik Islam Iran sejak revolusi 1979 dikenal sebagai negara berbasis ideologi Syiah yang kuat.

Dalam lanskap dunia Islam yang mayoritas Sunni, Iran kerap ditempatkan dalam posisi “yang lain”, berbeda, bahkan dianggap ancaman.

Tuduhan sektarian, ambisi regional, dan ideologi revolusioner menjadikan Iran sasaran kecurigaan, isolasi, dan bahkan permusuhan dari sebagian besar negara-negara Arab, khususnya di kawasan Teluk.

BACA JUGA...  Mencoba Memahami Suasana Kebatinan Bambang Soesatyo Dalam Sengkarut Penolakan Amandemen Konstitusi

Namun, terlepas dari semua kontroversi dan perbedaan mazhab, Iran justru tampil sebagai salah satu negara yang paling vokal dan konsisten dalam membela perjuangan rakyat Palestina.

Sejak masa Pemimpin Spiritual Ayatollah Ruhullah  Khomeini, Iran tidak hanya mengecam eksistensi rezim Zionis Israel, tetapi juga mendukung kelompok-kelompok perlawanan di Palestina dan Lebanon baik secara moral, politik, maupun logistik.

BACA JUGA...  ​Rahasia "Lon Tuan" Menguak Watak Pemimpin dalam Diri Orang Aceh

Hari Al-Quds (Quds Day), yang diperingati setiap Jumat terakhir Ramadan, menjadi simbol kuat dari komitmen ini simbol yang langka di tengah semakin sunyinya suara dunia Islam untuk Palestina.

Sebaliknya, banyak negara Arab dan Muslim justru memilih jalan kompromi. Tidak sedikit pula yang menormalisasi hubungan dengan Israel dalam kerangka kepentingan ekonomi, keamanan, atau tekanan geopolitik dari Barat.