Sementara itu, negara-negara Muslim kembali diam, tidak ada kecaman atas pelanggaran kedaulatan Iran dan
tidak tampak solidaritas yang kuat atas serangan terhadap sesama negeri Muslim.
Sebaliknya, narasi sektarian kembali dimainkan dan Iran dianggap “bermasalah” karena berbeda mazhab, atau karena aliansinya dengan Suriah, Hizbullah, dan milisi perlawanan lainnya.
Hal itu, menggambarkan seolah-olah darah Muslim yang tumpah di Teheran tidak semahal darah Muslim di tempat lain karena “mereka Syiah”, dan bukan “bagian dari kita”.
Republik Islam Iran bukan negara tanpa cela, namun, dalam konteks pembelaan terhadap Palestina dan perlawanan terhadap Zionisme, Iran telah menempuh jalan yang konsisten dan penuh risiko.
Sementara banyak pemimpin Arab dan Muslim lebih sibuk membangun hubungan diplomatik dengan Israel atau menjaga kepentingan ekonomi dengan Barat, Iran justru memilih berdiri di barisan yang sama dengan rakyat Palestina.
Pertanyaannya kini jauh lebih serius dan mendesak, mengapa dunia Islam begitu pasif, bahkan terpecah dalam menghadapi kezaliman yang nyata baik terhadap Palestina, maupun terhadap Iran?
Muncul lagi pertanyaan, mengapa solidaritas umat hanya muncul dalam retorika, bukan dalam aksi kolektif?




