Mereka bukan nelayan. Mereka mengikat tali, mengukur jarak, menancapkan pancang kayu di interval 15 meter. Di tengah hamparan pasir bercampur lumpur itu, 5.000 bibit mangrove ditanam kembali. Mereka menyebutnya “Investasi Bumi.”
- Upaya Menanam Harapan di Tanah yang Hampir Punah
ANGIN pagi di Pulau Pusung Cium, Seruway, membawa bau asin yang lebih pekat dari biasanya. Ombak berkejaran, memukul bibir kuala yang kian hari makin terkikis.

Di kejauhan, suara mesin robin para nelayan tak lagi terdengar seramai dulu. “Yang tersisa hanya lumpur dan jejak-jejak akar mangrove yang patah,” kata seorang aktivis setempat, lirih.
Pulau kecil yang dahulu dilingkari hutan bakau rimbun itu kini seperti lanskap luka. Batang-batang mangrove yang dulu berdiri sebagai penjaga ekosistem Kuala Pusong Kapal, kini tinggal tunggul-tunggul hitam yang terendam air pasang.
Namun pagi itu, di bawah terik yang menyengat, beberapa puluh orang tampak bergerak. Mereka bukan nelayan. Mereka mengikat tali, mengukur jarak, menancapkan pancang kayu di interval 15 meter. Di tengah hamparan pasir bercampur lumpur itu, 5.000 bibit mangrove ditanam kembali. Mereka menyebutnya “Investasi Bumi.”
Rumpun Berjarak di Tanah yang Tersayat.


![‘Investasi Bumi’ di Ujung Kuala Pusung Cium Tamiang. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Awelatam].](https://mediaaceh.co.id/wp-content/uploads/2025/11/Compress_20251116_142123_3606-scaled.jpg)












