Oleh: Fajar D TU
Teuku Raja Itam, Ulee Balang terakhir dari Patek, Aceh Barat, hilang tanpa jejak dalam Revolusi Sosial Aceh tahun 1946. Tragedi ini mencerminkan benturan antara bangsawan dan ulama pro-Republik. Misterinya belum terpecahkan hingga kini.
Lebih dari tujuh dekade berlalu, misteri hilangnya Teuku Raja Itam, Ulee Balang terakhir Patek, Aceh Barat, belum juga terungkap. Lahir tahun 1887, ia memimpin rakyatnya sejak 1908 hingga 1946, sebelum terseret gelombang kekerasan Revolusi Sosial Aceh. Sejarah mencatat, ia hilang tanpa jejak, dan makamnya tak pernah ditemukan.
Akar Pertentangan: Ulee Balang dan Gerakan Rakyat
Sebelum kemerdekaan 1945, Aceh masih berada di bawah sistem feodal. Para uleebalang berkuasa di wilayah mukim dan menjalankan administrasi kolonial. Mereka mengatur pajak, hukum, dan keamanan lokal, serta mempertahankan hubungan erat dengan pemerintahan Belanda.
Namun di sisi lain, muncul gelombang baru perjuangan Islam dan nasionalisme. Para ulama membentuk Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) pada 1939 — wadah perjuangan melawan penjajahan dan ketimpangan sosial.
Ketegangan antara kaum uleebalang dan ulama pun mengeras.
Sejarawan Anthony Reid dalam karyanya The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979) menulis,




