OPINI  

Hilangnya Teuku Raja Itam: Tragedi Ulee Balang Terakhir di Tengah Revolusi Sosial Aceh

Foto Ilustrasi: Teuku Raja Itam.

Daud Beureueh dan PUSA: Antara Politik dan Idealisme

Nama Teungku Muhammad Daud Beureueh, tokoh ulama kharismatik Aceh, kerap dikaitkan dengan Revolusi Sosial. Sebagai pemimpin PUSA, ia dikenal tegas memperjuangkan kemerdekaan dan pembentukan pemerintahan Islam di Aceh yang sejalan dengan Republik Indonesia.

Namun, tuduhan bahwa Daud Beureueh memerintahkan pembunuhan uleebalang banyak dibantah oleh sejarawan.

BACA JUGA...  21 Tahun Tsunami Aceh, Satu Bulan Banjir, Negara Terkesan Absen 

Menurut Anthony Reid,

“Tidak ada bukti kuat bahwa Daud Beureueh memerintahkan pembantaian. Kekerasan itu muncul spontan dari massa, akibat dendam sosial dan hasrat perubahan.”

Sementara Rusdi Sufi, penulis Aceh dalam Dinamika Sejarah Indonesia (1990), menilai Revolusi Sosial adalah “tragedi internal” bangsa Aceh.

“Ini bukan perang antara kebenaran dan kesalahan, tapi antara dua tafsir terhadap kemerdekaan,” tulisnya.

BACA JUGA...  Sycophant Dalam Diferensiasi Sebuah Pendekatan

Sejarawan dan ulama Aceh Ali Hasjmy dalam Sejarah Kebangkitan Islam dan Perjuangan di Aceh (1976) juga mencatat, banyak ulama sesungguhnya menyesali kekerasan itu. Namun, situasi revolusi membuat kendali sosial hilang.

“Ketika rakyat berteriak merdeka, amarah sosial sulit dikendalikan,” kata Hasjmy.

Teuku Raja Itam: Pemimpin yang Dihormati

Di mata rakyatnya, Teuku Raja Itam bukan sekadar bangsawan, melainkan tokoh yang dekat dengan masyarakat. Ia sering membantu petani, memediasi konflik, dan mengayomi anak yatim.