Daud Beureueh dan PUSA: Antara Politik dan Idealisme
Nama Teungku Muhammad Daud Beureueh, tokoh ulama kharismatik Aceh, kerap dikaitkan dengan Revolusi Sosial. Sebagai pemimpin PUSA, ia dikenal tegas memperjuangkan kemerdekaan dan pembentukan pemerintahan Islam di Aceh yang sejalan dengan Republik Indonesia.
Namun, tuduhan bahwa Daud Beureueh memerintahkan pembunuhan uleebalang banyak dibantah oleh sejarawan.
Menurut Anthony Reid,
“Tidak ada bukti kuat bahwa Daud Beureueh memerintahkan pembantaian. Kekerasan itu muncul spontan dari massa, akibat dendam sosial dan hasrat perubahan.”
Sementara Rusdi Sufi, penulis Aceh dalam Dinamika Sejarah Indonesia (1990), menilai Revolusi Sosial adalah “tragedi internal” bangsa Aceh.
“Ini bukan perang antara kebenaran dan kesalahan, tapi antara dua tafsir terhadap kemerdekaan,” tulisnya.
Sejarawan dan ulama Aceh Ali Hasjmy dalam Sejarah Kebangkitan Islam dan Perjuangan di Aceh (1976) juga mencatat, banyak ulama sesungguhnya menyesali kekerasan itu. Namun, situasi revolusi membuat kendali sosial hilang.
“Ketika rakyat berteriak merdeka, amarah sosial sulit dikendalikan,” kata Hasjmy.
Teuku Raja Itam: Pemimpin yang Dihormati
Di mata rakyatnya, Teuku Raja Itam bukan sekadar bangsawan, melainkan tokoh yang dekat dengan masyarakat. Ia sering membantu petani, memediasi konflik, dan mengayomi anak yatim.




