“Sebagian masyarakat tumbuh dengan narasi sepihak — ulama dianggap pahlawan, uleebalang dianggap pengkhianat — padahal keduanya bagian dari sejarah yang sama,” ujarnya.
Pasca Revolusi: Dari Darah ke Damai
Setelah Revolusi Sosial, kekuasaan politik di Aceh sepenuhnya dipegang oleh kalangan ulama. Di bawah pimpinan Teungku Daud Beureueh, Aceh sempat menjadi daerah paling stabil di Sumatra awal 1950-an.
Namun hubungan Aceh dengan Jakarta kembali menegang setelah status otonomi yang dijanjikan tidak kunjung direalisasi. Akibatnya, pada 1953, Daud Beureueh memimpin pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh.
Sejarawan Anthony Reid melihat bahwa luka Revolusi Sosial berkontribusi terhadap konflik ini. “Ketegangan antara agama, keadilan sosial, dan kekuasaan pusat adalah warisan langsung dari revolusi 1946,” tulisnya.
Misteri yang Tak Pernah Terpecahkan
Hingga kini, lokasi makam Teuku Raja Itam belum ditemukan. Beberapa peneliti lokal menduga ia dimakamkan secara massal di pedalaman Aceh Barat. Penelitian Cut Rasyidah (2020) menyebut, kemungkinan besar ia tewas bersama beberapa bangsawan lain tanpa tanda kuburan.
Namun, di tengah hilangnya bukti, masyarakat tetap mengenangnya. Setiap tahun, warga Patek menggelar doa bersama di bekas kediamannya. Sebuah rumah tua berdinding papan kini menjadi situs sejarah tidak resmi, tempat orang berziarah diam-diam mengenang sosoknya.




