OPINI  

Hilangnya Teuku Raja Itam: Tragedi Ulee Balang Terakhir di Tengah Revolusi Sosial Aceh

Foto Ilustrasi: Teuku Raja Itam.

Namun statusnya sebagai uleebalang menjadikannya target kebencian massa pro-republik yang menilai semua bangsawan sebagai antek kolonial. Padahal, menurut Cut Rasyidah, peneliti sejarah dari Banda Aceh dalam Jurnal Sejarah dan Budaya Aceh (2020),

“Tidak semua uleebalang pro-Belanda. Beberapa justru mendukung kemerdekaan, hanya berbeda cara dalam memperjuangkannya.”

Rasyidah menulis, hilangnya Teuku Raja Itam menandai “berakhirnya satu zaman kepemimpinan adat yang harmonis dengan nilai Islam lokal.”

BACA JUGA...  KPA Wilayah Pase Belasungkawa Sedalam-Dalamnya Atas Wafatnya Abu Tumin Blang Blahdeh

Trauma yang Panjang

Bagi keluarga besar Teuku Raja Itam dan keturunan uleebalang lainnya, peristiwa 1945–1946 meninggalkan luka mendalam. Hingga kini, sebagian masih enggan membicarakannya.

“Kami tidak mencari pelaku. Kami hanya ingin sejarah menulis yang sebenarnya,” ujar seorang cucu Teuku Raja Itam kepada Aceh Heritage Review.

Menurut Ibrahim Alfian, lebih dari 150 keluarga uleebalang di Aceh lenyap dalam periode Revolusi Sosial. Banyak dokumen, rumah, dan catatan sejarah ikut musnah. “Generasi berikutnya kehilangan jejak asal-usul dan sejarah keluarganya,” tulis Alfian.

BACA JUGA...  Mewarisi Nilai Ibadah dalam Merayakan Kemerdekaan 

Rusdi Sufi menambahkan, tragedi itu menciptakan “trauma antargenerasi” yang mempengaruhi relasi sosial Aceh selama puluhan tahun.