Di Balik Loreng Biru; Percakapan tentang Pengabdian dan Keberanian

Brigif; Pengabdian tanpa batas [mediaaceh.co.id | Laung].

“Saya bangga melihat semangat kalian. Brimob bukan hanya kekuatan fisik, tetapi jiwa-jiwa yang mengabdi demi kemanusiaan. Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan—itu adalah napas setiap langkah kalian.”

[Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, Kapolda Aceh].

PAGI itu, Lhokseumawe belum sepenuhnya terbangun. Kabut tipis masih menggantung di balik pepohonan yang mengitari Jalan Elak, Blang Mangat.

BACA JUGA...  RAKYAT BUTUH BUKTI, BUKAN SELFIE

Di Markas Komando Batalyon B Pelopor, satu per satu personel Brimob mulai mengambil posisi. Tubuh-tubuh tegap itu berdiri, sebagian menahan rasa kantuk yang belum tuntas, sebagian lain menyembunyikan kelelahan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Namun ada yang berbeda pagi ini. Bukan sekadar rutinitas apel atau pemeriksaan kesiapan. Ada kunjungan yang membawa arti lain; lebih dari sebuah agenda formal, ia terasa sebagai perjumpaan batin; Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, datang untuk menyapa mereka, para penjaga garis depan yang sering bekerja dalam sunyi dan risiko.

BACA JUGA...  Dari Sawah ke Sekolah, Dari Masjid ke Masa Depan; Jalan Panjang Membangun Tamiang

Saat kendaraan Kapolda memasuki halaman Mako, yel-yel Brimob bergema lantang. Suara itu bukan hanya simbol disiplin, tetapi cara mereka menyampaikan rasa hormat, bangga, dan kebersamaan.

Yel-yel yang menusuk ke relung, menghidupkan sisi emosional yang jarang tampak di balik disiplin ketat pasukan ini.