“Saya bangga melihat semangat kalian. Brimob bukan hanya kekuatan fisik, tetapi jiwa-jiwa yang mengabdi demi kemanusiaan. Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan—itu adalah napas setiap langkah kalian.”
[Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, Kapolda Aceh].
PAGI itu, Lhokseumawe belum sepenuhnya terbangun. Kabut tipis masih menggantung di balik pepohonan yang mengitari Jalan Elak, Blang Mangat.
Di Markas Komando Batalyon B Pelopor, satu per satu personel Brimob mulai mengambil posisi. Tubuh-tubuh tegap itu berdiri, sebagian menahan rasa kantuk yang belum tuntas, sebagian lain menyembunyikan kelelahan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Namun ada yang berbeda pagi ini. Bukan sekadar rutinitas apel atau pemeriksaan kesiapan. Ada kunjungan yang membawa arti lain; lebih dari sebuah agenda formal, ia terasa sebagai perjumpaan batin; Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, datang untuk menyapa mereka, para penjaga garis depan yang sering bekerja dalam sunyi dan risiko.
Saat kendaraan Kapolda memasuki halaman Mako, yel-yel Brimob bergema lantang. Suara itu bukan hanya simbol disiplin, tetapi cara mereka menyampaikan rasa hormat, bangga, dan kebersamaan.
Yel-yel yang menusuk ke relung, menghidupkan sisi emosional yang jarang tampak di balik disiplin ketat pasukan ini.




