Bukit Kerang Aceh Tamiang: Jejak Peradaban Purba yang Menjadi Destinasi Wisata Edukasi Paling Unik di Sumatera

Senin, 10 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

ACEH TAMIANG (MA) — Di tengah geliat pariwisata Aceh yang semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Aceh Tamiang kembali menegaskan diri sebagai daerah yang kaya potensi sejarah dan alam. Salah satu destinasi yang kini semakin banyak menyita perhatian para peneliti, wisatawan edukasi, hingga pecinta sejarah adalah Bukit Kerang, situs purbakala yang menyimpan jejak kehidupan manusia ribuan tahun lalu.

BACA JUGA...  Aceh Ramadhan Festival Segera Digelar, Catat Tanggal dan Lokasinya

Terletak di Kecamatan Bendahara, sekitar 30 menit perjalanan dari pusat Kota Karang Baru, Bukit Kerang menjadi saksi bisu tentang bagaimana manusia pada masa prasejarah memanfaatkan kekayaan alam di kawasan pesisir Aceh Tamiang. Tidak hanya unik dari sisi arkeologi, situs ini juga telah ditata sebagai destinasi wisata yang mampu menggabungkan edukasi, petualangan, dan rekreasi dalam satu paket lengkap.

BACA JUGA...  Pantan Terong, Panggung Sunrise di Atas Awan Gayo yang Bikin Rindu Kembali

Warisan Prasejarah Ribuan Tahun yang Masih Terjaga

Bukit Kerang, sebagaimana namanya, merupakan sebuah gundukan besar yang terbentuk dari tumpukan sisa-sisa kulit kerang dan makanan laut lainnya—peninggalan manusia prasejarah. Para arkeolog memperkirakan situs ini berusia ribuan tahun, bahkan sudah dihuni sebelum munculnya peradaban agraris di wilayah Aceh.

Ketika pengunjung tiba di kawasan tersebut, mereka disambut oleh tumpukan kerang raksasa yang menimbun bukit kecil dengan ketinggian lebih dari 5 meter. Bukan sekadar gundukan biasa, Bukit Kerang memberikan gambaran tentang pola hidup masyarakat purba yang mengandalkan hasil laut sebagai makanan utama. Kajian arkeologi menunjukkan adanya temuan rangka manusia, pecahan gerabah, batu alat, dan struktur lain yang mengindikasikan kehidupan intensif di lokasi tersebut.

BACA JUGA...  DASHAT Jadi Andalan Tekan Angka Stunting

Berita Terkait

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang
Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman
Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh
Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas
Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh
Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman
Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo
Rapai Geurimpheng, Seni Tradisi Aceh yang Menyatukan Bunyi, Gerak dan Syair

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:17 WIB

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:06 WIB

Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:01 WIB

Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:53 WIB

Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

APEL Adu Dugaan Maladministrasi ke Ombudsman

Senin, 14 Sep 2026 - 17:32 WIB

Rapat pembahasan APBK di DPRK Aceh Tengah.

PEMERINTAHAN

Belanja Naik, APBK Aceh Tengah Defisit

Senin, 14 Sep 2026 - 17:19 WIB

Lepas sambut Kapolres Aceh Tengah.

RAGAM BERITA

Diiringi Pedang Pora, Taufiq Tinggalkan Gayo

Senin, 14 Sep 2026 - 17:05 WIB

Ketua Kopsen Baitul Qiradh Baburrayyan Rizwan Husein sedang sosialisasi cara Penguatan Jaringan Usaha bagi Koperasi Desa Merah Putih.

EKBIS

Rizwan Husein: Kopi Jadi Kekuatan KDMP

Senin, 14 Sep 2026 - 16:57 WIB