Oleh: M. Idris Hardy, S.E.
Perdebatan mengenai peran dan langkah strategis para aktivis sering kali berujung pada polemik yang menguras energi. Fokus utamanya sederhana, sebuah pesan moral yang ditujukan kepada figur berpengaruh agar membuka hati dengan kejujuran. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan ini tidak pernah linier, melainkan penuh dengan intrik, manuver, dan risiko perpecahan.
Fenomena kunjungan tokoh aktivis senior seperti Eggi Sudjana (BES) ke Solo untuk menemui mantan presiden ke-7, Joko Widodo, memicu obrolan hangat sekaligus panas di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari elit politik hingga rakyat jelata di kedai kopi. Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap sebagai pemicu keretakan kubu yang semula solid, terutama ketika narasi mengenai Restorative Justice untuk BES dan Damai Hari Lubis (DHL) mulai bergulir.
Namun, jika ditinjau secara mendalam, manuver semacam ini seharusnya dipandang sebagai bagian dari strategi perjuangan. Jihad, dalam konteks pergerakan, sering kali merupakan adu strategi. Ibarat pepatah, jika ingin melihat ikan di dalam kolam, tenangkan dahulu airnya. Langkah yang tampak bertolak belakang dengan idealisme moral sering kali merupakan metode spesifik untuk mencapai fokus tertentu yang tidak bisa dipahami oleh mereka yang hanya melihat dari permukaan.



