OPINI  

Anatomi Perpecahan Aktivis: Antara Strategi Jihad dan Jebakan Narasi

Perpecahan antar saudara dalam satu kubu bukanlah hal baru. Sejarah mencatat Perang Jamal dan Perang Shiffin di era Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai bukti bahwa perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan dan politik kekuasaan dapat memicu benturan fisik di antara mereka yang semula seiring sejalan.

Ironisnya, saat para aktivis sibuk berselisih secara terbuka, kelompok asing dan antek-anteknya justru bekerja dengan sangat rapi dan tertutup untuk menguasai Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Mereka mampu menutupi friksi internal dengan persekutuan yang solid, sehingga rakyat tidak memiliki celah untuk memecah konsentrasi mereka. Akibatnya, kekayaan alam kita lebih banyak dinikmati oleh korporasi asing melalui tangan-tangan anak bangsa yang memegang kekuasaan.

BACA JUGA...  Kalau Otak Tak Bersatu dengan Hati, Apa yang Terjadi?

Pertanyaan besarnya adalah: mengapa para aktivis tidak belajar dari musuh-musuh bangsa yang mampu bergerak secara sunyi (silent) dan tidak mudah terpecah? Apa yang sebenarnya diburu sehingga ego pribadi sering kali mengalahkan kepentingan kolektif?

Sebuah kutipan masyhur mengingatkan kita: “Al-haqqu bilaa nidzom, yaghlibuhul baathilu binidzomin” – kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Tanpa kedewasaan, strategi yang matang, dan solidaritas yang kuat, perjuangan moral hanya akan menjadi panggung sandiwara yang melelahkan bagi rakyat yang menaruh harapan. (*)