Anatomi Perpecahan Aktivis: Antara Strategi Jihad dan Jebakan Narasi

Sabtu, 24 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tokoh seperti Eggi Sudjana, yang telah digembleng sejak era 1980-an dalam perlawanan terhadap kebijakan Orde Baru, memiliki rekam jejak manuver yang sarat pengalaman. Gerakannya sering kali mewakili aspirasi komunitas bawah tanah yang terbiasa memadukan idealisme dengan realitas pahit. Ketidakmampuan sebagian aktivis untuk bersikap dewasa dalam memahami konteks strategi bersama membuat mereka mudah terprovokasi untuk saling membuka “rahasia” yang sebenarnya tidak perlu menjadi konsumsi publik.

BACA JUGA...  Bendera Terbalik di SEA Games 2017, Sebuah Kesengajaan

Sering kali muncul tuntutan bahwa seorang penyampai pesan moral atau pendakwah harus memiliki moralitas yang sempurna sebelum mengajak orang lain. Namun, secara praktis, terdapat tiga tingkatan dalam penyampaian kebenaran, yakni:

1. Minimal (Menggugurkan Kewajiban): Seseorang tetap berkewajiban menyampaikan kebaikan meski dirinya belum sempurna. Prinsipnya adalah “Dengarlah apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan.”

BACA JUGA...  Putusan MK dan Masa Depan Perlindungan Pers

2. Maksimal (Dimensi Spiritual): Bergerak semata-mata mengharap rida Allah SWT, mencakup aspek kognitif, ritualistik, hingga praksis.

3. Ideal (Tanggung Jawab): Keselarasan penuh antara ucapan dan tindakan sebagai bentuk tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Seorang aktivis yang kerap menukil ayat suci dalam tuntutan keadilannya tidak harus divonis secara hitam-putih. Kita semua dianggap baik hanya karena Tuhan masih menutupi aib kita. Menilai seorang tokoh pergerakan secara terburu-buru hanya akan memperlemah barisan perjuangan itu sendiri.

BACA JUGA...  Polisi Presisi dan Mitra Masyarakat

Berita Terkait

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku
Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal
Dari Ruang Curhat
Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:56 WIB

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku

Selasa, 29 September 2026 - 17:40 WIB

Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

Dari Ruang Curhat

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Berita Terbaru

Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE., MM saat melantik pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten Aceh Utara, Jum'at, (30/10).

PEMERINTAHAN

Lantik 10 Pejabat, Ayah Wa Tegaskan Jabatan Bukan Hadiah

Jumat, 30 Okt 2026 - 21:02 WIB

Anggota DPRK Aceh Selatan Mistan Aulia (tengah) asal Kluet Timur memberikan support saat personil TNI mengerjakan pembangunan jembatan di daerah pedalaman Aceh Selatan.(Foto/mediaaceh.co.id/Maslow Kluet).

PEMERINTAHAN

Mistan Aulia Apresiasi TNI Bangun Jembatan

Jumat, 30 Okt 2026 - 20:45 WIB

NEWS FEATURE

Safriadi Pimpin KSMI Kota Lhokseumawe

Jumat, 30 Okt 2026 - 11:56 WIB