OPINI  

Aceh Selatan dan Blunder Anggaran, Baru Menjabat, Sudah  Gaduh

Oleh: Alizamzami

BELUM genap 100 hari menjabat, pucuk pimpinan baru (bupati-red) Kabupaten Aceh Selatan sudah membuat keputusan yang menimbulkan kegaduhan publik.

Kebijakan yang mengatasnamakan efisiensi anggaran justru dinilai sebagai langkah yang keliru, bahkan memalukan.

Di tengah ekspektasi masyarakat terhadap lahirnya kepemimpinan baru yang solutif, justru muncul kebijakan yang tampak gegabah dan terburu-buru, tidak transparan, dan tidak berpihak pada rakyat kecil.

BACA JUGA...  HUT ke-29 Kecamatan Pasie Raja: Dulu Ladang Tuha  Barometer Politik

Efisiensi atau Pemborosan Sosial

Secara teori, efisiensi anggaran adalah langkah positif. Namun dalam praktik, efisiensi tidak berarti asal memangkas tanpa arah yang jelas.

Apalagi tanpa kajian mendalam, transparans, serta komunikasi yang baik dengan publik, efisiensi justru bisa menjadi pemborosan sosial : mengorbankan program penting, memicu  keresahan, dan, bahkan mencederai kepercayaan publik (trust publik).

BACA JUGA...  Menimbang Sosok Pemimpin Desa di Aceh Selatan

Alih-alih memperlihatkan perbaikan dalam tata kelola pemerintahan, kebijakan ini justru memperlihatkan lemahnya koordinasi dan buruknya proses pengambilan keputusan.

Pertanyaannya, apakah ini cermin dari ketidaksiapan dalam memimpin? Atau justru simbol dari kegagalan membaca kebutuhan rakyat secara nyata?

100 Hari Sejatinya Jadi Pondasi, Bukan Kontroversi