BANDA ACEH (MA) – Di Gampong Tuwi Eumpeuk, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, sebuah kesenian tradisional masih terus hidup di tengah perubahan zaman.
Namanya Dikee Pam (Dikee Pam Panga).
Kesenian ini bukan sekadar pertunjukan. Di balik lantunan syair dan shalawat yang menjadi bagian dari penampilannya, tersimpan perjalanan panjang budaya masyarakat Tuwi Eumpeuk yang berakar dari tradisi keagamaan.
Dikee Pam dipercaya mulai lahir pada 1951 melalui kreativitas Tgk. Hamzah, salah seorang tokoh yang memiliki peran penting dalam perjalanan awal kesenian tersebut. Tgk. Hamzah kemudian meninggal dunia pada 1978.
Hingga kini, Tuwi Eumpeuk tetap menjadi tempat utama masyarakat yang menjaga dan memainkan Dikee Pam.
Para pelakunya berhimpun dalam Sanggar Aneuk Nanggroe, wadah yang selama bertahun-tahun menjadi ruang bagi para seniman untuk berlatih sekaligus mempertahankan pengetahuan mengenai kesenian tersebut.
Tgk. Marwan, yang pernah memimpin Sanggar Aneuk Nanggroe pada 1997-2018 dan kini menjadi salah satu tokoh yang dituakan di sanggar itu, mengatakan Dikee Pam tidak pernah dibatasi untuk berkembang ke daerah lain.
Menurutnya, masyarakat Tuwi Eumpeuk justru terbuka jika ada kelompok seni atau komunitas dari luar yang ingin mempelajari Dikee Pam.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















