“Dikee Pam memiliki perjalanan yang menarik karena berangkat dari tradisi keagamaan dan kemudian berkembang menjadi seni pertunjukan. Warisan seperti ini perlu kita kenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa di setiap kesenian terdapat sejarah, nilai dan identitas masyarakat yang melahirkannya,” ujar Nurlaila.
Menurutnya, pelestarian kesenian tradisional tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan. Regenerasi, dokumentasi dan keterlibatan anak muda juga menjadi bagian penting agar pengetahuan tentang kesenian tersebut tidak terputus.
“Mari kita rawat dan terus hidupkan kesenian daerah kita. Tidak hanya melalui pertunjukan, tetapi juga dengan belajar, mendokumentasikan dan memberikan ruang kepada generasi muda untuk terlibat. Kalau semakin banyak yang mengenal dan mau mempelajarinya, Dikee Pam akan memiliki kesempatan untuk terus diwariskan,” katanya.
Lebih dari Sekadar Pertunjukan
Bagi masyarakat Tuwi Eumpeuk, Dikee Pam bukan sekadar seni pertunjukan.
Kesenian tersebut merupakan bagian dari perjalanan sejarah masyarakat, warisan kreativitas para pendahulu sekaligus salah satu penanda identitas budaya gampong.
Keberadaannya juga membuka peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya Aceh Jaya. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati keindahan alam, tetapi juga mengenal tradisi masyarakat melalui seni yang masih hidup dan dimainkan oleh komunitas lokal.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















