SAAT AIR TAK LAGI JINAK

Sayed Zainal M, SH. Direktur Eksekutif LembAHtari. Di Pesantren Darul Mukhlisin Tanjung Karang Aceh Tamiang.

“Banjir bandang di Aceh Tamiang bukan semata bencana alam. Ini adalah bencana ekologis akibat perusakan hutan dan tata kelola ruang yang abai. Jika hulu terus dirusak, maka hilir akan terus menjadi korban.”

[Sayed Zainal, S.H. Direktur Eksekutif LembAHtari].

  • LembAHtari Menyigi Akar Banjir Bandang Aceh Tamiang; Hutan yang Hilang, Alarm yang Terabaikan
BACA JUGA...  Warga di Dusun Bahagia Masih Tinggal di Tenda, Masri: Huntara Belum Bisa Ditempati 

SAAT air tak lagi jinak. Air itu datang bukan sekadar membawa lumpur. Ia menyeret batang-batang kayu gelondongan, memutus jalan kampung, merobohkan rumah-rumah papan, dan menenggelamkan harapan warga yang tinggal di hilir sungai.

Banjir bandang kembali melanda Aceh Tamiang, menyisakan duka dan pertanyaan lama yang belum juga terjawab; mengapa bencana ini terus berulang?

BACA JUGA...  Bupati Aceh Utara, Ayah Wa Terima Bantuan Masa Panik dari Provinsi Aceh

Di tengah kepanikan warga menyelamatkan diri, suara kritis datang dari Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari). Lembaga ini menegaskan bahwa banjir bandang di Aceh Tamiang tidak bisa lagi dilihat semata sebagai takdir alam atau akibat curah hujan ekstrem.

Ada faktor manusia yang bekerja perlahan, sistematis, dan selama bertahun-tahun diabaikan: perusakan hutan dan alih fungsi lahan di kawasan hulu.

BACA JUGA...  PWI Aceh Distribusikan Bantuan untuk Wartawan Terdampak Bencana

Direktur Eksekutif LembAHtari, Sayed Zainal, S.H., menyebut banjir bandang kali ini sebagai “peringatan keras” dari alam yang daya dukungnya telah dilampaui.