SAAT AIR TAK LAGI JINAK

Sayed Zainal M, SH. Direktur Eksekutif LembAHtari. Di Pesantren Darul Mukhlisin Tanjung Karang Aceh Tamiang.

Menurutnya, setiap kali air bah turun dari hulu, selalu ada pola yang sama; lumpur pekat, kayu gelondongan, dan sedimentasi berat yang mengendap di pemukiman warga.

“Ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. Polanya berulang. Ketika air membawa kayu dan lumpur dalam jumlah besar, itu menandakan ada degradasi ekosistem serius di hulu sungai,” kata Sayed kepada media ini, Senin, 15 Desember 2025.

HULU YANG TERLUKA, HILIR YANG MENANGGUNG DERITA

BACA JUGA...  Pemkab Aceh Utara Terima Rp96 M Dana Stimulan Tahap II 

ACEH TAMIANG dikenal sebagai wilayah dengan bentang alam yang kaya: hutan, sungai, dan daerah aliran sungai (DAS) yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan.

Namun dalam dua dekade terakhir, lanskap itu berubah drastis. Ekspansi perkebunan skala besar, terutama kelapa sawit, merangsek ke wilayah yang sebelumnya berfungsi sebagai kawasan resapan air.

LembAHtari mencatat bahwa banyak kebun yang kini berdiri di zona rawan, bahkan mendekati kawasan hutan lindung dan sempadan sungai.

BACA JUGA...  Cepat Tangani Banjir, Bupati dan Wabub Bertandang ke BNPB Pusat

Ketika hujan ekstrem terjadi, air kehilangan ruang untuk meresap. Sungai yang menyempit dan dangkal tak lagi mampu menampung debit air, lalu meluap dengan daya rusak yang mematikan.

Di beberapa kampung terdampak, warga mengaku setiap musim hujan selalu dihantui kecemasan. Mereka tidak lagi bertanya “apakah banjir akan datang”, melainkan “seberapa parah banjir kali ini”. Rumah-rumah yang dibangun di bantaran sungai menjadi saksi bisu perubahan lingkungan yang tak terkendali.