MENJEMPUT LAPAR DI NEGERI YANG TENGGELAM

Bantuan ke Sekumur dengan Motor Boat.

Investigasi Perjalanan Heroik Taryadi, SH, MH di Tengah Robohnya Ekologi Aceh Tamiang.

“Ini bukan semata bencana alam. Ini balasan alam atas kebijakan yang salah pada hutan, tambang, dan perkebunan.”

[TARYADI, SH, MH].

  • Negeri yang Runtuh dalam Sehari

TIDAK ada yang pernah membayangkan bahwa Aceh Tamiang akan runtuh hanya dalam satu hari.

BACA JUGA...  Bupati Turun Langsung, Penanganan Pascabanjir Dipacu

Pada 26 Desember 2025 itu, hujan yang turun selama delapan hari tidak sekadar menambah debit sungai [ia menggulung masa depan].

Dari hulu DAS Tamiang, air coklat bercampur lumpur meledak seperti mulut gunung yang memuntahkan dendam. Lalu, dalam hitungan jam, 12 kecamatan hilang dari peta. 216 kampung terseret air bah.

Bukan hanya rumah yang hilang, bukan hanya jalan, jembatan, atau sawah yang padam. Yang paling rapuh adalah harapan. Di bukit-bukit terjal yang menjadi tempat pelarian, ribuan warga bertahan dengan pakaian yang melekat di tubuh dan rasa lapar yang kian menggerogoti.

BACA JUGA...  Bur Ni Telong Berstatus Siaga

Data resmi mencatat; 58 orang meninggal dunia, 18 luka-luka 208.163 mengungsi, 90.185 bertahan di puing-puing rumah runtuh dan 632 titik pengungsian dibuka secara darurat.

Di balik angka-angka itu, terdapat wajah-wajah pucat, mata cekung, anak-anak menangis karena tak lagi punya botol susu ataupun roti kering untuk sekadar menipu rasa haus.