“Kami tidak menuntut banyak. Kami hanya ingin hak kami dihormati, agar tanah yang kami cintai ini memberi hidup, bukan sekadar harapan.”
[Dr. Usman Lamreung, MS.i. Direktur Lembaga EDR].
Di Tanah Kaya tapi tak Menghidupi
SENJA DI RANTAU selalu datang dengan warna tembaga. Di atas hamparan tanah yang sedikit gersang, derrick-derrick [berangkat alat untuk memindahkan beban berat] tua berdiri seperti rangka besi yang menua [bekas masa kejayaan yang kini tinggal kenangan].
Angin membawa aroma khas minyak mentah yang masih menetes dari pipa tua. Dari kejauhan, suara anak-anak berlarian di jalan tanah, melewati genangan kecil bekas hujan semalam.
Di salah satu rumah papan, Nurhayati (48), seorang ibu dari tiga anak, tengah menanak nasi di dapur yang sederhana. “Dulu, orang tua kami bilang daerah ini kaya,” ujarnya sambil menatap jendela yang terbuka setengah. “Tapi sampai sekarang, saya belum tahu di mana letak kayanya itu.”
Ia tertawa lirih, bukan karena lucu, melainkan karena getir. Di halaman belakang rumahnya, mengalir parit kecil dengan air berwarna kecokelatan.
Tak jauh dari sana, hanya beberapa ratus meter, berdiri pagar tinggi dengan logo Pertamina EP Rantau. Di balik pagar itulah tersimpan miliaran rupiah setiap hari [hasil bumi yang diekstraksi dari perut tanah Aceh Tamiang].




