Liuk Pesona Eksotik Destinasi Gampong Jawa

  • Bagikan

 133 total views,  2 views today

[Saat matahari mulai malu menyembulkan sinarnya diufuk kaki langit, ketika temaram memyapa. Keindahan matahari terbenam (sunsite) membuat kita tertegun dengan keagungan Ilahi.]

Feature | Syawaluddin

GAMPONG JAWA, begitu sebutannya, letak wilayahnya tepat diujung barat kota Banda Aceh. Ibukota provinsi Aceh; masuk dalam daftar cagar budaya.

Gampong Jawa, banyak terdapat situs peninggalan bersejarah. Makam raja, Kitab, Hikayat, Bangunan tua, seperti Masjid Teungku Dianjong.

Aceh dijuluki sebagai ‘Serambi Mekkah’ sebutan itu diberikan, punya alasan sangat refresentatip, sebab bagi siapapun yang akan menunaikan ibadah rukun Haji, dari manasik sampai pemberangkatannya harus melalui Masjid Teungku Dianjong. Gampong Jawa.

Itu berlaku bagi seluruh calon haji yang ada di nusantara ini, saat akan menunaikan rukun kelima dari Rukun Islam dimulai dari masjid Teungku Dianjong, Gampong Jawa. Kota Banda Aceh—Koeta Radja.

Selain memiliki nukilan sejarah dan Cagar Budaya dengan nilai sakral. Gampong Jawa juga memiliki fanorama begitu indah dan sangat eksotik.

Saat matahari mulai malu menyembulkan sinarnya diufuk kaki langit, ketika temaram memyapa. Keindahan matahari terbenam (sunsite) membuat kita tertegun dengan keagungan Ilahi.

Bentangan dengan alam berlatar belakang Pulau Weh (Sabang) menambah takjub pengunjung yang menikmati sunaite saat senja menyapa.

Jejeran perahu nelayan yang sandar dipantai, selepas melaut; dengan cat beraneka ragam menambah suasana lebih afik dan sangat eksotik. Menambah suasana senja Gampong Jawa sangat semarak.

Kekaguman itu juga dirasakankan seorang destinasi pantai Gampong Jawa, Fadli Maulana (Staf Dinas Pertanahan Aceh), dimulai dengan racauannya.

Pantai dapat dipastikan sering menjadi destinasi wisata bagi setiap orang, apalagi kalau pantai itu indah dan mudah dijangkau.

Wisata pantai memang memberikan nuansa berbeda, jika dibandingkan dengan destinasi wisata lainnya. Angin yang berhembus dengan damainya dan suara deburan pantai yang datang silih berganti dapat menghanyutkan suasana pikiran kita, sehingga bisa menghapuskan kepenatan dan kejenuhan dari aktivitas rutinitas.

“Kota Banda Aceh memiliki destinasi wisata pantai yang tidak kalah indah dengan pantai-pantai lainnya. Setiap sore hari dan khususnya saat liburan banyak wisatawan lokal berkunjung ke pantai ini,” Katanya sumringah seraya nyeruput hidangan kopi.

Wisatawan yang berkunjung ke pantai tidak saja datang untuk menikmati indahnya suasana pantai tetapi juga ingin melihat aktivitas-aktivitas lainnya yang ada disana.

Pantai Gampong Jawa berada tidak jauh dari Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, hanya berkisar 4,6 kilometer atau perlu 10 menit untuk menjangkaunya dengan kendaraan roda dua dan mobil.

Pantai yang berlokasi di Gampong Jawa Kecamatan Kutaradja ini juga terkenal dengan adanya aktivitas nelayan yang menangkap ikan dengan cara tradisional atau dikenal dengan sebutan Tarek Pukat.

Tarek yang berarti “Tarik”, dan Pukat adalah alat sejenis jaring yang digunakan untuk menangkap ikan. Ini merupakan daya Tarik tersendiri yang dimiliki oleh pantai Gampong Jawa sebagai bagian dari menjaga tradisi dan bisa dikatakan juga menjadi wisata budaya.

Menjelang sore hari pantai ini semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal karena sebagian besar pengunjung ingin melihat panorama indah saat sunset sambil menyeruput secangkir kopi Aceh.

Sunset yang indah ini merupakan momen yang kerap ditunggu banyak orang. Bahkan banyak yang rela datang lebih awal agar dapat mencari spot terbaik dan terindah hanya untuk menikmati sunset.

Perpaduan Sunset dan Tarik Pukat inilah yang menjadi andalan daya tarik utama bagi pantai Gampong Jawa, ini bisa kita lihat dari banyaknya wisatawan dan fotographer lokal yang datang setiap harinya dan langsung turun ke pantai saat nelayan sedang tarek pukat dan sunset akan segera berlangsung.

Fotograper lokal banyak mengambil foto momen-momen saat nelayan sedang bersiap-siap menggulung jaringnya dan mendorong perahu ke darat, pertanda tarek pukat segera berakhir seiring sunset menjadi latar belakang yang sangat indah.

Begitu juga dengan pengunjung yang mencoba mengabadikan indahnya sunset pantai gampong jawa melalui telpon genggamnya.

Tidak hanya sunset dan tarek pukat saja yang bisa kita jumpai di pantai Gampong Jawa ini. Kota Banda Aceh sepertinya tidak mau kalah dengan Kota Sabang yang memiliki Monumen Kilometer Nol, pengunjung dapat menjumpai Tugu Kilometer Nol Banda Aceh di pantai Gampong Jawa, yang belum lama dibangun tetapi mempunyai makna yang berbeda dengan Tugu Kilometer Nol Kota Sabang. Kalo Tugu Kilometer Nol Banda Aceh ini dibangun sebagai tanda bukti bahwa cikal bakal atau lahirnya Kota Banda Aceh dimulai dari sini.

Yang patut disayangkan sarana dan prasarana yang ada di pantai Gampong Jawa ini masih sangat minim sekali bahkan bisa dikatakan memprihatinkan.

Terutama Fasilitas Ibadah seperti Mushola yang belum tersedia. Tempat parkir kendaraan roda 4 dan 2 yang masih tidak beraturan sehingga mengganggu akses jalan. Kamar mandi/toilet yang sangat tidak nyaman dan bisa dikatakan peruntukannya bukan untuk pengunjung wisata sehingga perlu dibangun secara khusus.

“Saya berharap hal ini mungkin sudah menjadi perhatian, khususnya dari Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh yang akan mengakomodir hal-hal tersebut diatas,” Kata Fadli.

Sebagai penulis saya juga ingin memberikan masukan khususnya tambahan bangunan yang bisa dikombinasikan dengan bangunan yang bertuliskan Kilometer Nol, diharapakan dengan adanya tambahan ini bisa membuat lebih menarik lagi bagi pengunjung untuk berfoto, beswafoto, dan bisa bergaya seperti nelayan yang sedang mendorong perahu atau gaya bebas lainnya.

Bangunan yang perlu ditambahin adalah perahu yang menjadi andalan nelayan pada saat melakukan tarek pukat dan posisinya dibangun/diletakkan bisa seperti gambar yang saya tampilkan pada tulisan ini. Kombinasi bangunan tulisan kilometer nol dengan perahu nelayan bisa menjadi icon pantai Gampong Jawa nantinya.

Tanpa kita sadari keindahan dari sunset ini perlahan-lahan akan menghilang dan tenggelam dibalik kepulauan Breueh dan Nasi seiring dengan terdengarnya kumandang Azan Magrib dari kejauhan. (*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Malu Achh..  silakan izin yang punya webs...