Repleksi 24 Tahun Kabupaten Aceh Tamiang; Menerjang Arus, Menyalakan Harapan

“Kami tidak boleh kalah oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun, negara harus hadir. Dan kami memastikan itu [bahwa rakyat Aceh Tamiang tidak berjuang sendirian].”

[Irjen Pol (P) Drs Armia Pahmi, MH]

  • Aceh Tamiang 24 Tahun; Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat

BENCANA tidak pernah memilih waktu yang tepat. Ia datang ketika manusia masih menyusun rencana, ketika pembangunan tengah berjalan, dan ketika harapan sedang ditanam.

BACA JUGA...  Menteri PU Tinjau Sinkhole di Aceh Tengah

Di Kabupaten Aceh Tamiang, usia 24 tahun bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi tentang bagaimana sebuah daerah bertahan dari ujian yang berulang.

Banjir besar yang melanda menjadi titik balik [bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi arah pembangunan itu sendiri].

Di tengah air yang meninggi, satu pertanyaan mengemuka; seberapa cepat sebuah daerah bisa pulih, dan seberapa kuat ia bisa bangkit?

BACA JUGA...  Ilegal Drilling Marak di Kampung Alur Tani II

Air datang membawa daya rusak yang tak terbendung.

Sungai meluap, menyatu dengan daratan, menghapus batas antara permukiman dan aliran air. Dalam waktu singkat, Aceh Tamiang terisolasi.

Rumah-rumah terendam. Aktivitas ekonomi berhenti. Sawah yang menjadi sumber hidup berubah menjadi lautan lumpur. Di banyak titik, warga hanya bisa bertahan di tempat yang tersisa [atap, perahu, atau daratan kecil yang belum ditelan air].