BANNER IKLAN

Ilegal Drilling Marak di Kampung Alur Tani II

  • Bagikan

example banner

 371 total views,  1 views today

example banner

Yang lebih mencengangkan lagi ternyata pernyataan yang tak terduga dari Datok Penghulu Kampung Alur Tani II tentang kegiatan ilegal tersebut bahwa; pihak Polsek, Camat sudah tahu ada aktivitas pengeboran migas di Kampung Alur Tani II.

Laporan | Zulherman

KUALASIMPANG (MA) – Ilegal drilling (pengeboran minyak tak resmi) marak di Kampung Alur Tani II, kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Kamis, 15 April 2021.

Hasil pantauan mediaaceh.co.id dilokasi kegiatan, terlihat warga sedang melakukan aktivitas pengeboran ilegal, dilengkapi dengan beberapa peralatan Drilling Migas, drum, pipa dan lainnya.

Saat ditanya, warga dengan tenang menjawab bahwa; areal tanah tersebut milik mereka dan pekerjaan itu dilakukan oleh masyarakat, malah salah seorang dari pengebor mengatakan, kalau ingin tau lahan tersebut milik siapa disuruh wartawan tanya pada seluruh warga yang ada di Kampung Alur Tani II.

Menurut warga sempat ada donatur yang berasal dari Rantau Panjang, Aceh Timur, sang donatur datang dengan membawa alat kerja dan modal yang pelaksanaan pekerjaannya adalah masyarakat Kampung Alur Tani II.

Kemudian ditempat terpisah, Datok Penghulu (Kepala Desa) Kampung Alur Tani II, Fitriadi mengatakan bahwa; pemerintah kampung tidak pernah memberikan izin untuk pengeboran minyak tersebut.

“Secara lisan mereka ada menyampaikan permohonan izin kepada saya dan pada saat itu juga pernah dilakukan rapat di Kampung yang diketahui oleh Imam Kampung, Masyarakat Duduk Setikar Kampung (MDSK), serta beberapa perangkat lainnya”, ucap datok.

Yang lebih mencengangkan lagi ternyata pernyataan yang tak terduga dari Datok Penghulu Kampung Alur Tani II tentang kegiatan ilegal tersebut bahwa; pihak Polsek, Camat sudah tahu ada aktivitas pengeboran migas di Kampung Alur Tani II.

Pemerintah seharusnya menertibkan kegiatan tersebut dengan melakukan sosialisasi serta tindakan secara hukum, karena exploitasi tersebut dapat menimbulkan bencana alam dan merusak lingkungan jika dilakukan tidak prosedural dan dapat merugikan kepentingan hajat hidup orang banyak. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *