Oleh: Tgk. Muhsin, MA
SETIAP kali Pilkada, kita seharusnya merayakan pesta demokrasi dengan riang gembira, di mana rakyat akan memilih pemimpin terbaik. Pemimpin
yang bisa mewujudkan kesejahteraan rakyat dan keadilan bagi daerahnya.
Sayang seribu kali sayang, praktiknya, Pilkada sering kali menjadi panggung bagi permainan sentimen, bukan arena adu gagasan berbasis argumen yang kuat.
Alih-alih fokus pada program, visi, dan solusi yang konkret, Pilkada sering berubah menjadi kontestasi emosi, di mana popularitas lebih diutamakan daripada kualitas kepemimpinan.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana politik kita, terutama dalam konteks Pilkada, telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan.
Ketika argumen yang rasional, berbasis data, dan memiliki arah yang jelas tergantikan oleh permainan sentimen emosional, kita bertanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan esensi demokrasi?
Politik Identitas dan Sentimen Emosional
Salah satu bentuk paling nyata dari politik sentimen yang muncul dalam Pilkada adalah politik identitas.
Para kandidat, alih-alih mempresentasikan rencana pembangunan yang konkret, lebih sering memanfaatkan identitas seperti agama, etnis, atau asal daerah untuk memicu perasaan solidaritas di antara kelompok tertentu.




