TKD Bukan Sekadar Dana, Tapi Denyut Hidup Pelayanan Publik

Dr. Usman Lamreung, MSi. Peneliti dari Lembaga EDR.

Sebab dalam konstruksi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ada istilah “daerah subsidi” atau “daerah beban”. Yang ada hanyalah “daerah yang berhak mendapatkan dukungan agar bisa tumbuh setara”.

Transparansi, Kolaborasi, dan Harapan Baru

Namun, Aceh dan daerah lain juga harus bercermin. TKD yang besar tidak akan membawa kesejahteraan jika dikelola tanpa transparansi dan akuntabilitas.

BACA JUGA...  Formula E Gagal Dijegal

Setiap rupiah harus menjadi bukti nyata bahwa dana publik benar-benar kembali ke publik — bukan sekadar tersangkut di meja birokrasi.

“Inilah saatnya pemerintah pusat dan daerah duduk satu meja, bukan untuk saling menuding, tapi mencari formulasi fiskal yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan. Pusat tidak boleh semena-mena memotong, daerah pun tidak boleh lalai dalam tata kelola”.

Keduanya harus berjalan beriringan, karena tujuan akhirnya sama: menghadirkan kesejahteraan rakyat di seluruh penjuru negeri.

BACA JUGA...  Ayah Wa: Opini WTP ke-11 Jadi Motivasi Tingkatkan Akuntabilitas dan Pelayanan Publik

Nafas Aceh, Nafas Kita Semua

Pemotongan TKD bagi Aceh bukan hanya isu lokal, tapi cerminan rapuhnya struktur fiskal nasional.

Apa yang terjadi di Aceh hari ini bisa menjadi cermin bagi daerah lain besok. Keadilan fiskal bukanlah hadiah, melainkan tanggung jawab negara untuk menjaga setiap daerah tetap hidup dan tumbuh.