TKD Bukan Sekadar Dana, Tapi Denyut Hidup Pelayanan Publik

Dr. Usman Lamreung, MSi. Peneliti dari Lembaga EDR.

Dan bagi masyarakat di akar rumput, dampaknya sederhana tapi nyata: layanan publik melemah, harga-harga naik, dan rasa percaya pada negara perlahan memudar.

Narasi “Kemandirian Daerah” yang Sering Salah Arah

Seringkali, pemotongan dana pusat dibungkus dengan narasi “daerah harus mandiri”. Namun realitasnya, kemandirian tidak bisa dipaksakan tanpa pondasi yang kuat.

BACA JUGA...  Mengenal Sosok Alaidin Abu Abas, Untuk Aceh Tengah Yang Lebih Baik

PAD tidak tumbuh dari kehendak semata; ia membutuhkan basis ekonomi produktif — industri, investasi, dan iklim usaha yang kondusif. Sementara di banyak daerah, terutama di luar Jawa, akses terhadap sumber ekonomi nasional masih terbatas.

Mendorong kemandirian fiskal memang penting, tetapi bukan dengan melemahkan dukungan pusat, melainkan dengan memperkuat kapasitas daerah;

penyederhanaan regulasi, peningkatan daya saing ekonomi lokal, serta pemberian insentif bagi investasi yang berorientasi pada pemerataan.

BACA JUGA...  Optimalkan Layanan Publik, Ini Harapan Sekda Aceh Selatan

Fiskal Bukan Sekadar Anggaran, Tapi Tanggung Jawab Keadilan

Peneliti dari Lembaga Emirates Development Research (EDR) Dr. Usman Lamreung, MSi. Menampar wajah negara dengan catatan hitam tata kelola pemerintahan yang tidak pro pada tenaga kerjanya. Kehadiran negara dalam hakikatnya, seperti fiskal adalah wajah keadilan negara.

“Anggaran bukan sekadar catatan angka, tetapi perwujudan nilai, artinya sejauh mana negara hadir untuk menjamin hak hidup warganya tanpa diskriminasi wilayah,” jelas Warek I Universitas Abulyatama ini.

Jika transfer ke daerah dianggap beban, maka yang sesungguhnya sedang dipertanyakan adalah komitmen negara terhadap cita-cita keadilan sosial.