Sekolah, Rumah Kedua yang Terluka
Di Aceh Tamiang, banyak sekolah berdiri dengan semangat gotong royong. Ada yang dibangun dari tanah wakaf, ada yang berdiri karena sumbangan masyarakat. Guru-gurunya hidup sederhana, namun hati mereka penuh dedikasi.
“Di kampung kami, guru masih seperti orang tua kedua,” kata seorang wali murid di Kecamatan Manyak Payed, ketika ditemui penulis. “Kalau anak ditegur, kami anggap itu bagian dari sayang. Karena kalau tidak ditegur, justru kami khawatir.”
Namun di tempat lain, suasananya mulai berubah. Masyarakat yang semakin terhubung dengan media sosial mulai mudah tersulut. Satu video pendek diunggah tanpa konteks bisa menimbulkan badai reaksi.
Kasus Banten menjadi bukti bahwa ruang digital kini bisa menekan ruang moral. Dunia maya mempersingkat waktu berpikir; dan sering kali, memotong ruang empati.
Di tengah kecepatan itu, dunia pendidikan yang seharusnya tumbuh dari kesabaran dan proses justru terjebak dalam logika instan: viral dulu, klarifikasi belakangan.
Dinas yang Mendengar dengan Hati
Sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, Supriyanto paham betul bahwa tugasnya bukan hanya mengatur, tapi juga mendengar.
“Kami dari Dinas siap melayani masyarakat yang ingin memberi masukan, kritik, atau pengaduan. Tapi kami harap semuanya disampaikan dengan semangat membangun, bukan menyerang,” ujarnya tulus.
Ia menyadari bahwa pendidikan adalah sistem yang rapuh jika dijalankan tanpa rasa saling percaya. Guru, orang tua, dan dinas harus saling menopang, bukan saling menguji.




