Saat Sekolah Tak Lagi Seruang dengan Kasih

Drs. Sepriyanto. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Mendidik dengan Nurani

Pendidikan, kata Ki Hadjar Dewantara, adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Artinya, mendidik bukan memaksa, tapi menuntun agar potensi baik dalam diri anak bisa tumbuh alami.

Namun tuntunan itu tidak akan berarti jika tangan-tangan yang menuntun justru diborgol oleh prasangka.

Aceh Tamiang memberi pesan sederhana kepada Indonesia: bahwa pendidikan sejati lahir dari sinergi antara guru, orang tua, dan pemerintah.

BACA JUGA...  Rapor Hijau Untuk Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Bahwa teguran yang bijak adalah bentuk kasih, bukan kekerasan. Dan bahwa anak-anak tidak butuh dunia yang saling menyalahkan, melainkan dunia yang saling memahami.

Di setiap ruang kelas, di balik papan tulis yang mulai pudar, selalu ada seorang guru yang berjuang agar anak-anaknya tumbuh menjadi manusia baik.

Terkadang, perjuangan itu tidak terlihat [tapi justru di sanalah cinta pendidikan menemukan bentuknya].

BACA JUGA...  Kontingen Aceh Timur Lolos ke Final MTR ke-XXIV di Meulaboh

“Jangan buru-buru menghakimi setiap teguran guru. Karena di balik suara yang keras, sering tersembunyi hati yang sedang berdoa agar muridnya kelak jadi manusia yang lebih baik.”

[Drs. Sepriyanto. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang]. [].