Dalam pandangannya, pendidikan bukan sekadar urusan angka kelulusan atau akreditasi, tapi perjalanan nilai. “Anak-anak ini bukan hanya kita bentuk untuk pintar, tapi juga berkarakter. Untuk itu, guru perlu ruang kepercayaan,” katanya.
Kata kepercayaan itu menonjol. Ia seolah ingin menegaskan: jangan biarkan guru merasa sendirian di tengah badai persepsi publik. Karena tanpa kepercayaan, seorang guru hanya tinggal gelar tanpa makna.
Menjaga Nyala di Tengah Gelap
Ada satu kisah kecil yang diceritakan Supriyanto saat diskusi dengan wartawan lokal. Suatu hari, seorang guru di pedalaman Tamiang menegur siswanya yang sering bolos.
Murid itu marah dan tak mau datang lagi ke sekolah. Alih-alih menghukumnya, sang guru justru datang ke rumahnya, berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Ia duduk di beranda, berbicara dengan orang tua murid itu sambil menahan air mata. Seminggu kemudian, anak itu kembali ke sekolah.
“Guru itu tidak menulis laporan atau meminta sanksi. Ia memilih jalan hati,” kata Sepriyanto. “Itulah esensi pendidikan kita. Menyentuh, bukan menekan.”
Kisah sederhana itu menggambarkan filosofi yang makin langka: bahwa tugas guru bukan hanya mengajar, tapi menuntun. Dan bahwa disiplin sejati hanya tumbuh dari kasih, bukan dari ketakutan.




