Ada nada prihatin dalam suaranya ketika ia berkata, “Di balik teguran seorang guru, ada kasih sayang yang tak selalu dimengerti.”
Antara Teguran dan Luka Sosial
Dalam dunia pendidikan yang ideal, guru dan orang tua adalah dua tangan yang saling menggenggam: satu mengajar, satu membesarkan.
Tapi zaman modern kerap membuat genggaman itu longgar. Orang tua kini mudah curiga; guru mudah cemas. Satu kesalahpahaman saja bisa menjelma perkara hukum.
Bagi sebagian guru, mengajarkan disiplin kini terasa seperti berjalan di atas tali tipis, terlalu lembut, anak tak belajar; terlalu keras, bisa berakhir di pengadilan.
Padahal, dalam ruang pendidikan, teguran sejatinya adalah bentuk cinta [cara seorang pendidik mengajarkan tanggung jawab dan batas].
“Guru itu bukan robot. Mereka juga manusia, dengan niat baik dan kepedulian yang kadang tak sempat diterjemahkan dengan kata-kata,” ujar Sepriyanto pelan.
Ia tidak sekadar berbicara sebagai pejabat. Di balik intonasinya, ada empati seorang ayah, seorang warga yang paham bagaimana rapuhnya ekosistem pendidikan ketika kepercayaan hilang.
Menegur dengan Cinta, Bukan Amarah
Kasus di Banten membuka percakapan besar; di manakah batas antara mendidik dan melanggar? Siapa yang menentukan makna “kewajaran” dalam menegur murid? Sepriyanto memilih jalan tengah [jalan kebijaksanaan].
“Saya minta semua Kepala Sekolah dan Guru agar tetap mengedepankan sikap bijaksana. Beri sanksi yang mendidik, bukan yang melukai,” ujarnya. “Tujuan kita bukan mempermalukan, tapi menumbuhkan kesadaran. Karena teguran yang baik bukan suara keras, tapi pantulan dari niat tulus untuk membentuk karakter.”
Kalimat itu mengandung makna yang dalam. Di tengah tekanan kurikulum, target capaian, dan dinamika sosial, banyak guru kini kelelahan bukan karena muridnya, tapi karena ketakutan akan salah langkah.




