Saat Sekolah Tak Lagi Seruang dengan Kasih

Kamis, 16 Oktober 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Drs. Sepriyanto. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Drs. Sepriyanto. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Ada nada prihatin dalam suaranya ketika ia berkata, “Di balik teguran seorang guru, ada kasih sayang yang tak selalu dimengerti.”

Antara Teguran dan Luka Sosial

Dalam dunia pendidikan yang ideal, guru dan orang tua adalah dua tangan yang saling menggenggam: satu mengajar, satu membesarkan.

Tapi zaman modern kerap membuat genggaman itu longgar. Orang tua kini mudah curiga; guru mudah cemas. Satu kesalahpahaman saja bisa menjelma perkara hukum.

BACA JUGA...  Kadisdikbud Bireuen : DAK di Prioritas Untuk Pembangunan Sekolah

Bagi sebagian guru, mengajarkan disiplin kini terasa seperti berjalan di atas tali tipis, terlalu lembut, anak tak belajar; terlalu keras, bisa berakhir di pengadilan.

Padahal, dalam ruang pendidikan, teguran sejatinya adalah bentuk cinta [cara seorang pendidik mengajarkan tanggung jawab dan batas].

“Guru itu bukan robot. Mereka juga manusia, dengan niat baik dan kepedulian yang kadang tak sempat diterjemahkan dengan kata-kata,” ujar Sepriyanto pelan.

Ia tidak sekadar berbicara sebagai pejabat. Di balik intonasinya, ada empati seorang ayah, seorang warga yang paham bagaimana rapuhnya ekosistem pendidikan ketika kepercayaan hilang.

BACA JUGA...  Perayaan HUT RI Ke-79 di Langkahan Dimeriahkan dengan Karnaval

Menegur dengan Cinta, Bukan Amarah

Kasus di Banten membuka percakapan besar; di manakah batas antara mendidik dan melanggar? Siapa yang menentukan makna “kewajaran” dalam menegur murid? Sepriyanto memilih jalan tengah [jalan kebijaksanaan].

“Saya minta semua Kepala Sekolah dan Guru agar tetap mengedepankan sikap bijaksana. Beri sanksi yang mendidik, bukan yang melukai,” ujarnya. “Tujuan kita bukan mempermalukan, tapi menumbuhkan kesadaran. Karena teguran yang baik bukan suara keras, tapi pantulan dari niat tulus untuk membentuk karakter.”

Kalimat itu mengandung makna yang dalam. Di tengah tekanan kurikulum, target capaian, dan dinamika sosial, banyak guru kini kelelahan bukan karena muridnya, tapi karena ketakutan akan salah langkah.

BACA JUGA...  Pemerintah Aceh Harus Cari Jalan Keluar Selesaikan Perjanjian MoU Helsinki

Berita Terkait

Workshop Desain Grafis, Buka Peluang Freelance bagi Pelajar
Rahmatsyah Tunjuk Henny Mahera Siregar Sebagai Plh SMAN 1 Simpang Ulim
Pasca Demonstrasi di SMAN 1 Simpang Ulim, Kacabdin: Kita Tunjukkan Plh
Teuku Kamaruzzaman Kembali Pimpin IKAKUM USK 2026–2031
DPP PA Gelar FGD, Lukman Hakim: Pentingnya Ideologi Ke Acehan 
PA Sukses Gelar Pendidikan Politik untuk Anggota
Muhammad Johan Mengikuti Wisuda S3 di UPI Bandung dengan Predikat Cumlaude 
Ayah Wa Temui Gubernur URI Bahas Sekolah Garuda

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:25 WIB

Workshop Desain Grafis, Buka Peluang Freelance bagi Pelajar

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Rahmatsyah Tunjuk Henny Mahera Siregar Sebagai Plh SMAN 1 Simpang Ulim

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:37 WIB

Pasca Demonstrasi di SMAN 1 Simpang Ulim, Kacabdin: Kita Tunjukkan Plh

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:05 WIB

Teuku Kamaruzzaman Kembali Pimpin IKAKUM USK 2026–2031

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:08 WIB

DPP PA Gelar FGD, Lukman Hakim: Pentingnya Ideologi Ke Acehan 

Berita Terbaru

MILITER

Pulang Ke Pidie Jaya, Danrem Hadiri Maulid Raya

Kamis, 29 Okt 2026 - 17:01 WIB

RAGAM BERITA

Firdaus Diberhentikan dari Anggota PWI

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:33 WIB

Wakil bupati Aceh Utara Tarmizi Panyang saat mengikuti pertemuan pemetaan wilayah banjir dan longsor bersama BPBD Aceh Utara.

PEMERINTAHAN

BPBD Petakan Wilayah Rawan Banjir dan Longsor Aceh Utara

Selasa, 27 Okt 2026 - 19:06 WIB