Bahkan sebelum memberi nasihat, mereka harus bertanya pada diri sendiri; apakah teguran ini akan berujung masalah?
Pendidikan pun perlahan kehilangan ruhnya. Teguran berubah jadi sekadar “prosedur,” bukan pembelajaran nilai.
Ketika Komunikasi Retak
Bagi Sepriyanto, akar masalah banyak konflik sekolah bukan pada niat buruk, melainkan pada kurangnya komunikasi.
Guru merasa diserang, orang tua merasa diabaikan, dan anak—yang seharusnya jadi pusat perhatian [malah jadi sumber salah paham].
“Guru dan orang tua harus sejalan dalam mendidik muridnya. Komunikasi intensif itu wajib dibangun,” katanya tegas. “Kalau tidak, anak akan bingung. Di rumah dilarang satu hal, di sekolah dibiarkan. Di sekolah ditegur, di rumah dibela. Anak kehilangan arah, dan pendidikan kehilangan wibawa.” Cibirnya penuh sengkarut kemelut.
Ia lalu, mengingatkan pentingnya koordinasi: jika ada persoalan, duduklah bersama. Selesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan laporan hukum.
“Orang tua sebaiknya meneliti dulu setiap informasi. Klarifikasi secara kekeluargaan. Bila komunikasi tersendat, ada komite sekolah, ada MPD, dan Dinas Pendidikan siap membantu.” Jelasnya penuh tanya, sebab kebijakan sudah disalah makna kan.
Dalam ucapannya, tersirat filosofi yang sederhana: pendidikan hanya bisa hidup di tanah yang damai. Bila tanah itu retak oleh prasangka, tak akan ada tunas yang tumbuh.




