Syiah Kuala dan Syech Nuruddin Ar Raniry adalah cerminan dari tradisi intelektual Aceh yang kaya, di mana pemikirannya masih relevan hingga saat ini.
Qadhi Malikul ‘Adil atau Mufti Kesultanan Aceh Darussalam terakhir dikenal dengan nama Tuanku Raya Keumala menjelang kejatuhan menjelang kejatuhan total kesultan Aceh yang pernah tercatat dalam lima besar kesultanan yang megah di dunia.
Dengan pengangkatan Abuya Amran Waly al-Khalidi, diharapkan beliau mampu melanjutkan warisan intelektual dan spiritual ini.
Beliau dikenal bukan hanya sebagai seorang penguasa ilmu yang tinggi, tetapi juga sebagai ulama sufi yang memiliki daya tarik tinggi di kalangan masyarakat.
Kombinasi antara pemahaman agama yang mendalam dan kemampuan mengelola masyarakat dengan bijak menjadi modal utama Abuya Amran dalam melaksanakan tugasnya sebagai Qadhi.
Posisi Abuya Amran ini tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga mengandung tanggung jawab moral dan sosial.
Dalam konteks masyarakat Aceh yang kental dengan nilai-nilai tradisional, peran seorang Qadhi harus mampu menyeimbangkan antara hukum dan hikmah, antara kewenangan dan pelayanan.
Oleh karena itu, kepemimpinan beliau diharapkan dapat menjadi pelita dalam menerangi jalan masyarakat Aceh menuju masyarakat yang lebih baik, adil, dan sejahtera.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















